Gugus Syuhada

May 1, 2015

Cara membuat e-paspor

Filed under: Uncategorized — Gugus Syuhada @ 8:45 pm

Berhubung masa berlaku paspor sudah mau habis Juli ini, paspor harus diperbarui. Kata petugasnya sih ga ada istilah perpanjangan. Bener juga sih karena nomor paspor-nya bakal beda dengan yang lama. Rencana awal mau bikin paspor biasa aja, tapi waktu Maret kemarin mertua akan berangkat ke Jepang bilang kalau paspor Indonesia bisa bebas visa tapi jenis e-paspor. Jadi boleh juga, siapa tahu ada rejeki bisa berangkat ke Jepang. Selain itu kelebihannya bisa lewat di autogate tanpa harus antri di loket imigrasi di banyak bandara Indonesia dan beberapa negara luar seperti Australia (baca di sini) karena dilengkapi dengan chip mikrotik di cover depan yang memuat data biometri kita.

Di sini saya mau bagikan proses pembuatan e-paspor yang saya lakukan di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan di warung buncit. Awalnya e-paspor bisa melakukan pendaftaran online, namun per 1 Februari 2015 hanya bisa dilakukan melalui pendaftaran walk-in di beberapa kantor imigrasi, salah satunya Jakarta Selatan.

img005

Brosur tata cara pembuatan paspor di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan

 

1. Lengkapi persyaratan yang disebut di sini. Ingat semua dokumen harus menuliskan nama dan alamat anda dengan sama. Buat fotocopy-nya di kertas A4 termasuk KTP (untuk keperluan scan data) dan pada hari-H pendaftaran bawa dokumen aslinya.

2. Pada hari-H pendaftaran, khusus di Jakarta Selatan yang merupakan tempat favorit pembuatan paspor. Pastikan anda tiba di lokasi di bawah pukul 6 pagi. Karena untuk metode walk-in (datang langsung) menggunakan sistem antrian, jika anda bukan prioritas (lansia, disabilitas, ibu-ibu hamil/dengan anak bayi), antrian hanya dibagikan untuk 100 orang pertama saja dan nomor antrian dibagikan pukul 7.30. Jika anda tiba di atas pukul 6, kemungkinannya anda dapat antrian di atas 50 yang biasanya mendapat giliran pelayanan selesai makan siang atau justru kehabisan nomor antrian. Memang gigih sekali orang-orang khususnya orang-orang yang akan bikin paspor untuk keperluan umrah atau naik haji.

3. Setelah mendapat nomor antrian, isi formulir yang diberikan (gratis) sembari mendengarkan penjelasan dari pihak kantor imigrasi. Tunggu hingga anda dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan layanan paspor untuk dilakukan proses input data, foto dan wawancara serta memilih metode pembayaran. Prosesnya sekitar 5-10 menit tergantung kecocokan dan kelengkapan data anda. Sekarang sudah one-stop service sehingga tidak perlu pindah ke meja lain dalam jangka waktu 3 hari seperti 5 tahun lalu saya perpanjang paspor.

4. Pada saat akan memilih metode pembayaran anda akan diberikan  beberapa pilihan (tidak ada pilihan pembayaran secara cash di kantor imigrasi) :

  • membayar melalui bank persepsi (BNI 46)
  • membayar melalui atm bank persepsi (BNI 46)
  • melalui debit/kredit kecuali bank BCA (pada saat itu, petugas bilang mesin EDC-nya sering macet jadi disarankan untuk membayar ke bank)

5. Setelah proses pembayaran sebesar 660 ribu (600 ribu untuk pembuatan e-paspor 48hal, 55 ribu untuk biaya biometrik dan 5 ribu untuk biaya administrasi bank) anda akan mendapat tanda terima permohonan paspor sebanyak 3 lembar. Untuk biaya pembuatan jenis paspor lainnya bisa dilihat di brosur di atas.

6. Paspor akan siap untuk diambil dalam jangka waktu (harusnya) 3 hari (lembar permohonan paspor saya dari 3 hari dicoret jadi 5 hari kerja).  Pengambilan paspor dilayani setiap hari kerja setelah pukul 10 pagi dengan mengambil nomor antrian terlebih dahulu. Tapi prosesnya sangat cepat, setiap nomor hanya sekitar 2-5 menit saja. Jadi kalaupun datang agak siang tidak masalah.

Ini penampakan paspor kita yang baru. Warnanya bukan hijau tua lagi tapi hijau teal dan covernya lebih tebal, untuk e-paspor ada simbol chip-nya.

 

 

Serpong, Tangerang

August 27, 2014

Rig Offshore Jack Up

Filed under: Oil and Gas — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 9:44 pm

Berikut adalah beberapa foto untuk menunjukkan seperti apa rig offshore Jack Up.

 

 

 

Serpong, Tangerang

 

 

 

 

January 14, 2014

Jenis-jenis rig pengeboran offshore

Filed under: Oil and Gas — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 6:11 pm

Sekitar 25% minyak dan gas dunia yang diproduksi sekarang berasal dari lapangan offshore (lepas pantai)  seperti North Sea dan Gulf of Mexico. Meskipun memiliki prinsip yang sama dengan pengeboran di darat, ada beberapa penyesuaian tertentu pada prosedur and peralatan yang digunakan untuk mengatasi bahaya dari lingkungan yang menantang dan berat. Berbagai macam rig offshore dibagi berdasarkan kedalaman air dimana rig tersebut bisa beroperasi. Berikut adalah pembagiannya :

Rig vs water depth

1.  Rig Darat

Rig ini beroperasi di darat. Tidak dibahas detail di postingan ini. Perbedaan dengan rig offshore bisa dibaca di sini.

2.  Barge/kapal tongkang

Kapal berpermukaan datar dan rata, mengapung di perairan dangkal yang dilengkapi dengan rig pengeboran. Biasa beroperasi di perairan dangkal seperti sungai atau laut dangkal.

3.  Jack up Rig

Rig yang memiliki tiga kaki yang bisa digerakkan ke bawah hingga dasar laut untuk menopang rig pengeboran di suatu posisi yang tetap. Jack up rig didesain untuk beroperasi di lautan hingga kedalaman 350 feet (107 meter). Beberapa foto rig jenis ini bisa dilihat di sini.

4.  Fixed platform (steel jacket)

Fixed platform  adalah jenis platform offshore yang digunakan untuk produksi minyak atau gas. Platform ini dibangun pada beton dan / atau kaki baja yang berpondasi langsung di dasar laut. Platform ini bisa dimuati dek dengan ruang untuk rig pengeboran, fasilitas produksi dan akomodasi personel.

5.  Rig Semi-submersible

Rig Semi-submersible adalah rig yang tidak memiliki penopang di bawah tetapi mengapung di air (rig seperti ini biasa disebut “floaters”). Rig ini bisa beroperasi di kedalaman laut hingga 3500 feet (1007 meter).

6.  Drillships

Untuk pengeboran di kedalaman laut hingga 7500 feet (2286 meter) digunakanlah drillship.

 

Serpong, Tangerang

 

October 10, 2013

Apa yang dibutuhkan untuk bekerja di industry migas

Filed under: Uncategorized — Tags: , , — Gugus Syuhada @ 7:33 pm

“it’s your attitude not your aptitude to make altitude”

Zig Ziglar

Dua tahun lalu saya berjumpa dia sebagai sopir mobil antar jemput personel perusahaan downhole tester. Sekarang, secara kebetulan kami bertemu lagi di sebuah rig, ia menjadi salah satu personel di perusahaan downhole tester tersebut. Kemudian ada seorang dari Bangladesh yang dua tahun lalu bekerja sebagai room boy di guest house. Di rig yang sama saya berjumpa dia sebagai operator cementing. Ada juga seorang bapak yang kini tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Barat yang menjadi driller padahal dulunya adalah seorang sopir angkot. Beberapa orang yang saya jumpai di rig dengan berbagai macam posisi juga mengaku berlatar belakang jauh berbeda dari yang dikerjakan sekarang. Ada yang dulunya adalah anggota sekuriti, mantan tentara, pekerja tambang, buruh pabrik, sopir taksi, pelayan di restoran, dan tukang las. Beberapa kesamaan dari mereka adalah keberanian untuk merantau, pekerja keras dan mau belajar terutama bahasa (Inggris). Di dunia minyak yang sempit ini, bahasa Inggris paling banyak digunakan sebagai sarana komunikasi karena beragamnya latar belakang asal pekerjanya. Dan inilah yang membuat, menurut saya, pekerja asal India dan negara-negara pecahannya yang dulu pernah dijajah Inggris banyak berada di kawasan Timur Tengah. Pasti masih ada banyak faktor lain yang dibutuhkan dan banyak cerita-cerita sukses lainnya. Saya hanya mendapatkan sebagian saja yang bisa saya tuliskan di sini. Semoga bermanfaat kalau ada yang membutuhkan.

 

Halfaya, Iraq

October 8, 2013

Jurusan kuliah untuk bekerja di industri migas

Filed under: Oil and Gas — Tags: , , , , — Gugus Syuhada @ 4:54 pm

Seminggu lalu di milis migas indonesia (migas_indonesia@yahoogroups.com / website : migas-indonesia.com) ramai didiskusikan tentang jurusan apa yang banyak bekerja di industri migas. Hal ini bermula dari seorang anggota yang bertanya kepada anggota lainnya yang cukup aktif menulis, tentang apa jurusan kuliahnya dahulu. Ia beralasan ingin memberi pertimbangan kepada anaknya dalam memilih jurusan kuliah yang bisa membawanya nanti bekerja di industri migas. Dari situ berkembang, tidak hanya anggota yang ditanya yang menjawab bahwa dia adalah lulusan teknik mesin namun sebenarnya semua jurusan dibutuhkan. Anggota-anggota lainnya pun ikut aktif berdiskusi, ada yang membuat daftar bagian atau bidang-bidang di industri migas diselaraskan dengan jurusan kuliah yang cocok dan yang kemudian dilengkapi oleh anggota lainnya. Ada pula yang menekankan salah satu jurusan yaitu teknik mesin atau teknik kimia lah jurusan yang paling dibutuhkan beserta data-data yang valid dan peta sebaran lulusan teknik kimia. Benarkah demikian ? Bagaimana dengan jurusan-jurusan “tuan rumah” industri migas seperti teknik perminyakan, teknik geodesi, teknik fisika, dan teknik  kelautan ? Untuk lebih lengkapnya silakan lihat langsung di milis.

Saya di sini bukan mau membahas jurusan apa yang terbaik untuk berkarir di industri migas, meskipun masih berkaitan. Saya jadi tertarik untuk melihat apa jurusan kuliah para CEO-CEO dari perusahaan operator minyak dan service (termasuk drilling). Saya berpikir dari situ mungkin bisa dilihat jika ada satu atau dua jurusan yang paling banyak dipilih oleh para CEO, bisa jadi itu adalah jurusan yang paling cocok dan berpeluang besar untuk sukses dalam berkarir di industri migas. Mungkin juga jika ada orang tua yang memikirkan sejak dini untuk anaknya jadi CEO, tidak hanya sekedar bisa bekerja di industri migas, bisa berkaca dari mereka dalam menyarankan jurusan kuliah. Namun dengan asumsi faktor-faktor selain jurusan kuliah diabaikan. Sumber dari daftar ini adalah murni internet, karena adalah umum untuk sebuah perusahaan terbuka memaparkan cv dan kompensasi para key person-nya. Berikut adalah daftarnya (updated 8 Oktober 2013) :

A. Operator company

  1. Rex Tillerson  (ExxonMobil Corp.) — Teknik Sipil  University of Texas at Austin
  2. Ben van Beurden (Royal Dutch Shell plc.) — Teknik Kimia  Delft University of Technology
  3. Robert Dudley (BP plc) — Teknik Kimia  University of Illinois
  4. John S. Watson (Chevron Corp.) — Agricultural Economics  University of California at Davis
  5. Ryan M. Lance (ConocoPhillips) — Teknik Perminyakan  Montana Tech in Butte
  6. John Hess (Hess Corp.) — Administrasi Bisnis  Harvard College
  7. Christophe de Margerie (Total SA) — Finance  Ecole Superieure de Commerce
  8. Zhou Jiping (Petrochina Ltd) — Marine Geologic Structure Nanhai Marine Research Institute of the Chinese Academy of Sciences
  9. Karen Agustiawan (Pertamina) — Teknik Fisika  Institut Teknologi Bandung
  10. Tan Sri Shamsul Azhar Bin Abbas (Petronas) — Ilmu Politik  Science University of Malaysia
  11. Viktor Alekseyevich Zubkov (Gazprom) — Jurusan Ekonomi Leningrad Agriculture Institute
  12. Hilmi Panigoro (MedcoEnergi) — Teknik Geologi  Institut Teknologi Bandung
  13. Paolo Scaroni (Eni SpA) — Ekonomi Bisnis  Universita Commerciale Luigi Bocconi
  14. Roger W. Jenkins (Murphy Oil Corp.) — Teknik Perminyakan  Louisiana State University
  15. Svein Rennemo (Statoil) — Jurusan Ekonomi  Universitet i Oslo

B. Service and drilling Company 

  1. Paal Kibsgaard (Schlumberger Ltd.) — Teknik Perminyakan Norwegian Institute of Technology
  2. David J. Lesar  (Halliburton Company) — Akuntansi University of Wisconsin-Madison
  3. Bernard J. Duroc-Danner (Weatherford International Ltd.) — Finance  University of Pennsylvania – The Wharton School
  4. Martin S. Craighead (Baker Hughes Inc.) — Teknik Perminyakan dan Gas Alam  Pennsylvania State University
  5. Ralph S. Cunningham (TETRA Technologies Inc.) — Teknik Kimia  Auburn University
  6. Jack B. Moore (Cameron International Corp.) — Keuangan dan Pemasaran  University of Houston
  7. Merrill A. Miller Jr. (National-Oilwell Varco, Inc/NOV) — Ilmu dan Teknik Terapan U. S. Military Academy at West Point
  8. Julio M. Quintana (Tesco Corp.) — Teknik Mesin  University of Southern California
  9. John T. Gremp (FMC Technologies Inc.) — Jurusan Bisnis  Lewis and Clark College
  10. David W. Williams (Noble Corp.) — Administrasi Bisnis Pemasaran  Texas University
  11. Daniel W. Rabun (ENSCO plc) — Akuntansi  University of Houston
  12. Steven L. Newman (Transocean Ltd.) — Teknik Perminyakan   Colorado School of Mines
  13. Lawrence R. Dickerson (Diamond Offshore Drilling Inc.) — Administrasi Bisnis  University of Texas
  14. Elia Massa (Elnusa Tbk.) — Teknik Sipil  Institut Teknologi Bandung
  15. Hertriono Kartowisastro (Apexindo Pratama Tbk) — Teknik Elektro  Institut Teknologi Bandung

Dari 30 orang-orang penting di atas, terdapat 15 orang yang memiliki latar belakang jurusan teknik.  Ada tujuh orang CEO berlatar belakang sarjana Teknik Perminyakan atau Geologi yang boleh dibilang merupakan jurusan inti industri migas. Diikuti Teknik Kimia sebanyak tiga orang dan Teknik Sipil dua orang. Teknik mesin, Teknik Fisika, dan Teknik Elektro diwakili masing-masing satu orang. Sisanya rata-rata berhubungan dengan bisnis, ekonomi, akuntansi atau keuangan. Ada satu orang yang jurusannya relatif jauh dengan urusan migas yaitu CEO Petronas yang memiliki gelar Sarjana Ilmu Politik. Yang menarik selain setengah jumlah dari orang-orang di atas berjurusan ekonomi adalah ada beberapa orang seperti CEO BP dan Murphy Oil, yang berlatar belakang S1 teknik, mereka juga mengambil MBA untuk kelanjutan studinya. Jadi apakah jurusan teknik perminyakan atau geologi untuk S1 (harus ITB kalau di Indonesia melihat 4 orang dalam daftar semuanya adalah lulusan Ganesha) dan Master di bidang ekonomi (MBA, finance, marketing dsj) untuk S2 adalah kombinasi yang tepat menuju karir puncak di industri migas  ? Silakan kalau mau dijadikan pertimbangan atau mungkin ada pendapat lain ?

 

Halfaya, Iraq

September 6, 2013

Hari kesebelas : Kuala Lumpur-Jakarta

Filed under: Traveling — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 8:45 am

Hari terakhir liburan 😦 Pesawat kami berangkat pukul 11.45. Untunglah agak siang. Jadi kami bisa menyempatkan diri ke Batu Cave. Dimana terdapat patung Dewa Murugan tertinggi di dunia. Dewa ini adalah dewa pelindung orang Tamil, orang India yang banyak berada di Malaysia. Pagi-pagi sekitar pukul setengah enam kami sudah berjalan keluar hotel. Setelah beli tiket, kami menunggu setengah jam kereta ke arah stasiun Batu Cave. Ketika kereta tiba, tidak banyak orang yang naik atau turun dari kereta. Relatif kosong juga di dalam kereta, mungkin karena hari minggu dan masih pagi atau jurusan Batu Cave tidak banyak yang menggunakan. Setelah kereta berjalan setengah jam, tibalah kami di tempat tujuan.
Kami foto-foto baik di depan dewa Murugan, Hanuman dan area-area yang kami pandang cukup bagus sebagai objek foto. Karena sudah sampai di sini, rasanya tidak lengkap jika tidak naik 272 anak tangga ke kuil yang ada di dalam gua di tengah bukit karang tersebut.


Pada saat jam menunjukkan pukul 8 pagi kami sudah berada di dalam kereta lagi untuk kembali ke KL Sentral. Pada saat tiba kami bergegas ke hotel, check out dan kembali lagi ke stasiun. Karena sudah beli tiket ke LCCT, kami langsung menuju peron. Hampir saja kami tertinggal dan harus menunggu kereta berikutnya. Meskipun pintu kereta udah tertutup ada petugas yang baik hati menekan tombol pintu darurat sehingga pintu terbuka kembali untuk sementara agar kami bisa masuk. Fyuuh… Tiba di stasiun Salak Tinggi kami naik bus ke LCCT. Check in, ke imigrasi dan masuk ruang tunggu. Pesawat berangkat tepat waktu sehingga kami bisa sampai ke rumah untuk makan siang di rumah makan padang. Nikmatnya…

 

Serpong, Tangerang

 

August 31, 2013

Hari kesepuluh : Kuala Lumpur

Filed under: Traveling — Tags: , , — Gugus Syuhada @ 7:53 pm

Hari ini kami telat bangun entah karena sudah terlalu lelah atau sudah malas kangen pengen pulang. Yang jelas pukul sepuluh kami baru keluar hotel dan segera mencari tiket buat ke genting highland dari KL sentral. Sialnya kami dapat tiket untuk pukul dua belas siang. Sekitar 1,5 jam kami harus menunggu. Waktu menunggu kami manfaatkan untuk makan, jalan-jalan keliling stasiun dan kembali ke hotel untuk mengambil tablet yang bisa kami gunakan menghabiskan waktu selama di bus dalam perjalanan ke genting highland yang memakan waktu satu jam.
Tepat pukul dua belas kami berangkat ke Genting Highland. Kami mendapatkan kursi paling belakang, suara dan getaran mesin, guncangan ketika ada lubang atau polisi tidur, dan bantingan ketika berbelok atau menikung sangat terasa. Untung saja kami tertidur selama perjalanan, sehingga tablet yang kami bawa tidak berguna. Bahkan saat tiba di Genting Highland, kami belum bangun. Setelah setengah penumpang sudah turun kami baru tersadar dan buru-buru berdiri untuk turun dari bis. Tiket bis seharga 10,3 ringgit yang kami beli sudah termasuk tiket skyway cable car. Sehingga kami langsung antri untuk naik cable car. Pada saat naik cable car, pemandangannya sungguh bagus. Saat itu hujan, dan hutan ditutupi kabut. Seperti ini :

DSC_2486

Tiba di Genting Highland, kami jalan-jalan berkeliling untuk lihat-lihat. Saya berpikir dulu di Genting hanya ada kasino dan si Ay cuma tahu kalau Genting itu seperti dufan. Ternyata Genting selain dua fungsi itu, casino dan theme park baik indoor maupun outdoor terdapat juga hotel, arena, mall, restoran, dan taman nasional. Tetapi kami hanya sekedar jalan-jalan. Tidak bermain, tidak belanja tidak juga berjudi. Hanya makan di Eatry kemudian pulang menggunakan cable car dan bus. Pukul 17.30 kami sudah di hotel lagi.
Keluar hotel untuk foto di depan Petronas twin tower. Pukul 18.15 kami naik monorel dan turun di stasiun bukit nanas. Saya ingat, tahun 2005 pertama kali direkrut oleh Schlumberger ada training OFS-1 di KL. Menginap di hotel Renaissance, yang jaraknya tak terlalu jauh dari stasiun Bukit Nanas. Oh that good old time days.

20130906-073358.jpg

Selesai sesi foto-foto sekarang saatnya makan malam. Kami sebenarnya rencana ke Jalan Alor. Karena hujan, pada saat turun dari stasiun Bukit Bintang, kami langsung berjalan dan masuk ke low yat plaza untuk berteduh. Ternyata lapar tidak bisa ditunda, kami pun makan di dalam plaza. Nasi lemak dan teh tarik. Sedap. Lucunya saat pulang, kami bermaksud mencari stasiun Bukit Bintang, karena salah pintu keluar kami malah menemukan Jalan Alor. Memang banyak sekali penjual makanan di situ. Duh, sayang sekali. Perut kami sudah kenyang dan badan lelah pengen tidur. Gak pake lama, setiba di hotel, kami mandi dan mencampakkan diri di kasur dan tertidur hingga pagi.

Kuala Lumpur, Malaysia

August 30, 2013

Hari kesembilan : Kuala Lumpur

Filed under: Traveling — Tags: , , , , — Gugus Syuhada @ 6:14 pm

Saatnya pindah negara. Herannya, kami baru sadar kami selalu pindah negara menggunakan pesawat pagi. Huaam, ngantuk. Untung hotel yang kami tinggali di Hanoi cukup baik. Mereka menawarkan kalau kami sudah bisa sarapan mulai dari pukul 6.10 padahal normalnya sarapan baru siap pukul 6.30. Mereka juga telah memesankan taksi untuk mengantarkan kami ke bandara. Menu sarapannya enak juga, nasi goreng vietnam, pao, roti, sereal dan buah-buahan tropis. Pukul 6.30 kamipun berangkat ke Noi Bai Airport. Setiba di airport kami sempat salah konter karena tidak diturunkan di terminal buat airasia. Sehingga kami harus mencarinya sendiri. Untung saja bandaranya tidak terlalu besar dan penumpangnya tidak terlalu banyak. Dan yang paling menyenangkan pesawat berangkat tepat waktu. Sehingga 3,5 jam perjalanan bisa mulai dihitung mundur. Selamat tinggal Hanoi, selamat datang Kuala Lumpur.
Di KL, kami mendarat di LCCT atau Low Cost Carrier Terminal. Gerimis menyambut kedatangan kami pada saat turun dari pesawat dan berjalan menyusuri koridor menuju gate kedatangan internasional untuk antri di imigrasi. Tak lama kemudian kami memdapat cap, diizinkan tinggal selama 30 hari dan tidak bekerja. Selepas mengambil bagasi kami bertanya ke informasi, bagaimana cara menuju KL Sentral. Mereka menjelaskan kami bisa membeli tiket bus plus kereta yang berhenti di stasiun KL Sentral. Dengan berbekal petunjuk tersebut kami mendapatkan konter bus yang dimaksud. Setengah jam di dalam bus akhirnya berlalu hingga kami tiba di stasiun KL sentral. Stasiun utama ini sangat ramai, karena dari namanya saja sentral sehingga hampir semua jalur kereta melalui stasiun ini. Baik itu monorail atau KTM/Metro. Kami mengikuti papan penunjuk ke arah monorail atau Brickfields. Ternyata di luar hujan sangat deras dan kami belum tahu pasti lokasi hotel. Dari peta dan alamat di Agoda.com lokasi hotel sentral hanya seraatus meter dari stasiun monorail sentral. Jadi kami harus berjalan mengikuti papan petunjuk ke arah stasiun monorail. Untunglah ada koridor yang beratap sehingga kami tidak basah kehujanan. Tiba di stasiun monorel kami tanya pakcik security yang menunjukkan arah di mana letak hotel sentral. Benar saja lokasinya sangat-sangat dekat.
Sampai di hotel ternyata kamar kami belum disiapkan. Padahal sudah pukul 14.30 dan waktu check in adalah pukul 14.00, kami disuruh menunggu sekitar setengah jam. Setelah setengah jam, kami belum juga dipanggil. Sayapun mendatangi resepsionis, ternyata dia lupa kalau kamarnya sudah disiapkan. Tapi tempat tidurnya dua single bed, saya menolak dengan alasan kami pesan satu double bed. Kemudian meminta kami menunggu lagi sekitar 10 menit. Setelah lima belas menit, kami pun dihampiri dan dijelaskan kalau kami mendapat free upgrade kamar yang lebih besar karena kamar standard double bed sudah penuh. Hore, blessing in disguise. Buru-buru kami masuk kamar, mandi dan beristirahat.
Malamnya kami pergi ke kampung baru menggunakan monorail, jadi ingat Jakarta semoga Pak Jokowi dan Koh Ahok bisa segera mewujudkan hal yang sama. Kampung Baru menurut buku petunjuk merupakan daerah yang memiliki banyak tempat makan. Tetapi kami curiga karena di stasiun Medan Tuanku, stasiun terdekat ke kampung baru, tidak banyak yang turun. Dan benar saja dugaan kami, di area papan petunjuk arah kampung baru memang banyak tempat makan seperti pujasera, hanya saja lebih banyak yang tutup dibandingkan yang buka. Kami pun kembali ke arah stasiun dan memutuskan mencari makan di Bukit Bintang. Pada saat turun di stasiun Bukit Bintang, kami menemukan ada pintu menuju Sungei Wang Plaza. Dimana Si Ay bisa menemukan toko tas dan sepatu merek asli Malaysia, Vincci. Kami pun pusing-pusing mencari outlet Vincci di dalam plaza, karena tak kunjung menemukannya kami menyempatkan diri berbelanja oleh-oleh coklat, piring dan miniatur Twin Tower. Setelah beberapa kali naik turun eskalator dengan panduan peta akhirnya kami menemukan Vincci. Benar saja ramai sekali toko ini. Selain sedang ada diskon,mungkin ini merek favorit juga di sini. Si Ay membeli dompet untuk ganti dompet lamanya yang sudah rusak yang kebetulan bermerek sama, hadiah dari mamanya yang pernah ke KL. Selesai belanja kami pergi cari makan, sebenarnya ingin makan nasi lemak tapi kita belum tahu lokkai tempat makan nasi lemak yang enak. Saat kami lihat peta plaza ada tempat makan ayam penyet Ria, dan di situlah kami makan malam. Masakan asli Indonesia di Malaysia.
Pada saat pulang ke hotel, di jalanan depan hotel terdapat keramaian dan tiba-tiba setelah bunyi petasan yang cukup keras terdapat kembang api yang cukup besar dan lama. Dilanjutkan arak-arakan dan karnaval berbagai barongsai dan naga. Terus orang-orang bermake up seram yang mulutnya ditusuk-tusuk dengan berbagai benda tajam, ada tombak, pisau, peniti, jarum, anting-anting dan lain-lain. Arakan-arakan terus berlangsung dan kami masih tidak mengerti sebenarnya ada acara apa. Setengah jam berdiri menonton kami pun kembali ke hotel meninggalkan arak-arakan yang masih berlangsung. Karena penasaran, kami pun bertanya ke resepsionis ada perayaan apa. Dia menjawab itu adalah ghost festival. Dirayakan setiah hari ke-14 bulan ketujuh kalender china yang biasanya jatuh di bulan Agustus. Berikut beberapa fotonya.

Kuala Lumpur, Malaysia

August 29, 2013

Hari kedelapan : Halong Bay-Hanoi

Filed under: Traveling — Tags: , , , , — Gugus Syuhada @ 6:21 pm

Hari ini acara kering, tidak ada acara basah-basahan lagi. Kami hanya berkunjung ke goa dan belajar membuat lumpia vietnam. Kami berangkat ke goa pukul 8.30 setelah sarapan menggunakan kapal kecil. Sesampai di sana, masih saja kami terkagum-kagum. Selalu ada hal baru yang membuat kami geleng-geleng kepala. Langsung saja ke TKP :

So Sit Cave

Sekembali dari goa, kami belajar membuat lumpia yang sangat gampang tapi sangat enak rasanya.

Sekitar pukul 11.30 kapal bergerak menuju arah dermaga untuk menurunkan kami yang harus meninggalkan Halong Bay yang indah ini menggunakan bus. Perjalanan terasa sangat lama dan sedikit mengharukan (setidaknya buat kami) karena harus berpisah dengan tempat yang begitu menakjubkan ini. Pukul lima sore kami sudah berada di hotel lagi, hotel yang berbeda dari hotel yang kami inapi pertama tiba di Hanoi. Tidak disangka hotel Angel Palace yang kami pesan menggunakan agoda.com meskipun murah ternyata sangat bagus. Pelayanannya juga memuaskan. Yang unik adalah interior di dalam kamar, walpapernya bermotif kulit buaya.

Setelah bebersih sebentar, kami langsung keluar untuk menuntaskan misi foto kami di depan literature temple dan one pilar pagoda. Sayang seribu sayang, literature temple sudah tutup, area one pillar pagoda sangat gelap. Walhasil kami hanya dapat foto alakadarnya sekedar syarat bukti pernah di Hanoi, meskipun kami sudah menanamkan dalam pikiran kami, perjalanan utama ke vietnam adalah ke Halong bay dan Hanoi adalah semacam bonus. Tetapi kami menyempatkan diri untuk her foto di Ho chi minh mausoleum.
DSC_2463

 

Hanoi, Vietnam

Hari keenam : Halong Bay

Filed under: Traveling — Tags: , , — Gugus Syuhada @ 6:14 pm

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Hari ini kami akan berangkat ke Halong Bay. Pagi hari kami makan di hotel sekenyang-kenyangnya karena gratis. Berangkat pukul delapan naik bus tigaperempat. Peserta tur yang bareng kami adalah satu keluarga beranggotakan ayah, ibu, dan tiga anak perempuan (ditambah dua lagi pak harusnya biar bisa main Conjuring, jeng jeng). Perjalanan ke Halong memakan waktu 3,5 jam termasuk istirahat 25 menit. Tiba di dermaga halong bay, kita langsung dijemput kapal kecil yang akan membawa kita ke cruise.

Sampai di cruise kita istirahat sebentar terus langsung makan siang. Dibuka dengan salad ala vietnam, kerang rebus, dan sate. Makanan utamanya nasi, ca cumi kalamari, capcay ayam dan ikan bass bumbu kuning dan ditutup dengan puding karamel. Minumannya cukup coca cola seharga 1dollar, karena minum di luar paket tur. Untung kami diberi info oleh teman kalau di Halong minuman tidak termasuk paket sehingga kami sudah antisipasi dengan membawa tiga botol besar air dari Hanoi plus dua botol lagi saat berhenti istirahat dalam perjalanan ke halong bay. Pukul 15.00 sesuai jadwal, kami tiba di salah satu pulau yang memiliki pantai pasir putih. Di situ rencananya kami akan bermain kayak keliling pulau dan berenang hingga pukul 17.00. Ngomong WOW sambil tiger sprong pun gak cukup menggambarkan betapa indahnya pemandangan yang kami lihat dan alami. Langsung saja ke TKP :

Sekembalinya di cruise kami mandi dan bersih-bersih badan. Dilanjutkan leyeh-leyh sambil ngupi-ngupi di sundeck. Melihat sunset dan gugusan pulau-pulau karang. Sungguh menakjubkan. Lanjutkan di TKP.

Sunset at Halong Bay

Sunset at Halong Bay

Makan malam disajikan pukul 19.00. Kejutan apalagi yang kira-kira kami dapatkan : Seafood. Udang segar tangkapan hari ini yang disteam langsung di depan kami. Ruangan langsung penuh asap saat koki memproses udang steam. Udang langsung disajikan selepas salad. Kepiting rebus segar dari nelayan di Halong Bay disajikan setelah udang steam.

20130906-061815.jpg

Halong Bay Crab

Makanan utama berupa nasi, labu bawang putih, orak arik, kari sapi yang lezatnya ga ketulungan dan minuman standar coca cola. Makan malam ditutup dengan buah naga dan pepaya. Sungguh nikmat. Acara malam hari adalah memancing cumi. Tidak terlalu menarik tapi boleh juga buat mengisi waktu sembari menunggu nasi turun sebelum tidur. *foto* Rasanya tidak sabar buat besok. Main kayak dan berenang di pantai pribadi, dari pagi hingga sore hari. Diselinggi makan siang di kapal kecil. Yuhuuu…. Halong Bay, Vietnam

Older Posts »

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: