Gugus Syuhada

August 27, 2014

Rig Offshore Jack Up

Filed under: Oil and Gas — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 9:44 pm

Berikut adalah beberapa foto untuk menunjukkan seperti apa rig offshore Jack Up.

 

 

 

Serpong, Tangerang

 

 

 

 

Advertisements

January 14, 2014

Jenis-jenis rig pengeboran offshore

Filed under: Oil and Gas — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 6:11 pm

Sekitar 25% minyak dan gas dunia yang diproduksi sekarang berasal dari lapangan offshore (lepas pantai)  seperti North Sea dan Gulf of Mexico. Meskipun memiliki prinsip yang sama dengan pengeboran di darat, ada beberapa penyesuaian tertentu pada prosedur and peralatan yang digunakan untuk mengatasi bahaya dari lingkungan yang menantang dan berat. Berbagai macam rig offshore dibagi berdasarkan kedalaman air dimana rig tersebut bisa beroperasi. Berikut adalah pembagiannya :

Rig vs water depth

1.  Rig Darat

Rig ini beroperasi di darat. Tidak dibahas detail di postingan ini. Perbedaan dengan rig offshore bisa dibaca di sini.

2.  Barge/kapal tongkang

Kapal berpermukaan datar dan rata, mengapung di perairan dangkal yang dilengkapi dengan rig pengeboran. Biasa beroperasi di perairan dangkal seperti sungai atau laut dangkal.

3.  Jack up Rig

Rig yang memiliki tiga kaki yang bisa digerakkan ke bawah hingga dasar laut untuk menopang rig pengeboran di suatu posisi yang tetap. Jack up rig didesain untuk beroperasi di lautan hingga kedalaman 350 feet (107 meter). Beberapa foto rig jenis ini bisa dilihat di sini.

4.  Fixed platform (steel jacket)

Fixed platform  adalah jenis platform offshore yang digunakan untuk produksi minyak atau gas. Platform ini dibangun pada beton dan / atau kaki baja yang berpondasi langsung di dasar laut. Platform ini bisa dimuati dek dengan ruang untuk rig pengeboran, fasilitas produksi dan akomodasi personel.

5.  Rig Semi-submersible

Rig Semi-submersible adalah rig yang tidak memiliki penopang di bawah tetapi mengapung di air (rig seperti ini biasa disebut “floaters”). Rig ini bisa beroperasi di kedalaman laut hingga 3500 feet (1007 meter).

6.  Drillships

Untuk pengeboran di kedalaman laut hingga 7500 feet (2286 meter) digunakanlah drillship.

 

Serpong, Tangerang

 

October 10, 2012

Cycling cadence demi efisiensi energi bersepeda

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 10:34 pm

Pertama kali mendengar kata cadence (pada saat itu yang ada dalam pikiran saya, tulisannya adalah cadance) yaitu ketika saya mengeluh kepada mas saya tentang susahnya naik tanpa menuntun sepeda di tanjakan-tanjakan trek Jalur Pipa Gas (JPG). Dia menyarankan saya berlatih cadence, yaitu mengayuh sepeda secara cepat pada gear kecil (ringan dikayuh) selama menggunakan sepeda. Pertama kali dicoba rasanya susah sekali. Di jalan datar atau menurun, adakalanya kayuhan sepeda seperti mengawang tidak ada beban sehingga seperti tergelincir. Akhirnya saya menyerah, dan menaikkan gear sepeda ke besar (berat dikayuh). Dan saya melupakan saran dari mas saya tersebut, kembali ke cara lama saya bersepeda.

Dua minggu setelah itu, saya mendapatkan assignment ke offshore Qatar. Di rig Noble Jimmy Pucket, tempat kita melakukan well testing, terdapat gym yang memiliki sepeda statis. Hasrat bersepeda saya muncul dan saya teringat lagi saran dari mas saya. Dengan niatan meningkatkan kemampuan menaklukan tanjakan-tanjakan JPG, saya pun googling “latihan cadence, cycling cadence training, cadence dll”. Dari situ saya mulai mendapatkan teori dan gambaran yang lebih baik sehingga bisa berlatih cadence menggunakan sepeda statis tersebut.

Cadence adalah jumlah putaran penuh pedal yang dilakukan dalam satu menit (rotation per minute/rpm). Menurut studi, Lance Armstrong, juara Tour de France 6 kali menerapkan cadence tinggi di atas 100 rpm. Pertanyaannya adalah apa hubungannya? Apa keuntungan dari cadence tinggi?

Jadi begini , setiap kayuhan pedal otot kita akan berkontraksi dan berelaksasi. Di setiap kontraksi dan relaksasi otot membutuhkan energi. Tidak hanya itu, setiap kontraksi otot akan menghasil asam laktat yang jumlahnya tergantung seberapa besar kekuatan kontraksi tersebut. Dengan melakukan cadence yang berpengaruh pada kecepatan dan kekuatan kontraksi otot, jumlah asam laktat di dalam darah dan jumlah energi yang digunakan akan terpengaruh juga. Misalnya, kita sedang bersepeda menanjak dengan gigi besar (berat dikayuh). Kita mungkin hanya dapat cadence sekitar 70 rpm dan menghasilkan kecepatan sebesar 20km/jam karena kayuhannya berat. Selain itu, karena setiap tekanan pedal relatif lambat dan berat, kita membutuhkan banyak energi dan menghasilkan banyak sekali asam laktat – sebuah latihan yang bersifat anaerobik. Seperti halnya latihan angkat beban. Lengan kita akan mudah lelah meskipun hanya mengangkat sebuah beban yang berat beberapa kali saja. Hal ini dikarenakan asam laktat diproduksi dengan cepat. Karena dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk membersihkannya dari dalam darah kita pun butuh waktu yang lama untuk pulih. Alternatifnya adalah kita harus meningkatkan kecepatan cadence dan mengayuh gear kecil. Hal ini akan lebih bersifat aerobik dibandingkan gear besar. Kembali ke contoh menanjak sebelumnya : sekarang kita mengecilkan gear sehingga dibutuhkan cadence yang lebih tinggi untuk mendapatkan kecepatan yang sama. Lalu dimana keuntungannya, kan kecepatanya tetap sama. Betul, tapi, kita menggunakan tenaga yang lebih sedikit setiap putaran sehingga asam laktat tidak terbentuk dan kita bisa menjaga kecepatan lebih lama dan pulih lebih cepat – latihan yang bersifat aerobik. Hal ini berprinsip sama dengan gear di mobil : kita akan menggunakan gigi 1 atau 2 pada saat menanjak untuk meningkatkan kecepatan engine.

Setelah mendapat teori yang cukup, mulailah saya berlatih untuk mendapatkan cadence sekitar 80-90 rpm. Yang penting napas saya kuat. Senyamannya saya saja. Tidak mudah ternyata, seringkali kaki tergelincir dan pedal kena ke tulang kering. Tapi seiring berjalannya waktu, saya semakin terbiasa dan waktu luang di rig bisa saya manfaatkan untuk hal-hal yang sehat. Tidak sabar rasanya, untuk menjajal hasil latihan di JPG.

 

Serpong, Tangerang Selatan

June 11, 2012

Bekerja di Rig Offshore

Filed under: Well Testing — Tags: , , , , , — Gugus Syuhada @ 1:16 am

Daripada sebel mantengin mivo.tv buat streaming Euro 2012 antara Italia dan Spanyol* di RCTI yang mondag-mandeg, saya sambi bikin postingan ini. Jika sebelumnya saya menampilkan penampakan bekerja di rig onshore. Maka di postingan yang ini saya beri penampakan bekerja di laut alias offshore alias lepas pantai. Dua foto pertama diambil di perairan Qatar di Teluk Persia dan foto ketiga diambil di Laut Jawa. Foto ketiga merupakah foto yang bisa dilakukan oleh well tester jika sumurnya mengalir/flowing atau tidak dry hole/tidak memproduksi hidrokarbon sehingga ada yang bisa dibakar di burner atau gas flare. Ada berbagai variasi pose dan di foto itu saya memilih pose “napas naga”.

Layout well testing

Wellhead Platform

Napas Naga

*skor akhir Italia 1 : Spanyol 1. Update dari Tempo.co bukan dari Mivo.tv.

Erbil, Iraq

June 8, 2012

Bekerja di Rig Onshore

Filed under: Oil and Gas, Well Testing — Tags: , , , , , , — Gugus Syuhada @ 12:37 am

Seperti inilah situasi kira-kira jika bekerja di rig onshore. Becek jika hujan. Temperatur terendah pada saat itu -2 derajat celcius.  Foto saya ambil di Akre, Kurdistan-Iraq, pada saat masih bekerja di sini dari atas salah satu bukit.

Rig WDI-842 di Akre

June 4, 2012

Untung rugi bekerja di oil service company

Filed under: Oil and Gas, Well Testing — Tags: , , , , — Gugus Syuhada @ 2:27 am

Postingan ini murni pendapat pribadi tanpa ada tekanan dari siapapun :). Karena kalau kata orang bule, “one man’s meat is another man’s poison”. Apa yang saya bilang keuntungan mungkin saja adalah kerugian buat orang lain. Sehingga daftar di bawah hanya mewakili saya dan bukan pekerja di oil service company pada umumnya. Kalaupun sama itu hanya kebetulan belaka (kaya disclaimer di sinetron wiro sableng saja).

 

 

+ Keuntungannya :

  • berkesempatan memiliki pekerjaan dengan tantangan yang berbeda-beda. Baik itu tempat kerja karena berpindah-pindah dari rig  atau sumur yang satu ke lainnya, dari yang di pinggir kota, tengah hutan, gurun, puncak bukit hingga ke tengah laut, ataupun teman bekerja baik itu  dari kru rig dan klien (oil company). Hal ini membuat saya harus belajar untuk cepat beradaptasi di berbagai tempat dan menghadapi berbagai macam jenis sifat orang yang sampai sekarang pun tetap saja susah. Jujur dan percaya diri adalah kunci utamanya.
  • sering jalan-jalan. Karena lokasi kerja mengikuti lokasi sumur punya klien (yang berbeda-beda) ya terpaksa saya harus sering jalan-jalan menuju lokasi kerja. Kalau beruntung bisa menikmati kota yang cantik dan hotel bintang lima.
  • bisa naik helikopter :). Ya, karena kadang-kadang sumurnya berada di tengah laut dan kalau naik kapal kelamaan.
  • flexible working hours. Meskipun kadangkala saya harus bekerja 24 jam nonstop atau lebih karena diburu waktu untuk segera buka sumur dan melakukan tes tetapi kadangkala saya juga bisa relaks 2 hari berturut-turut jika ada operasi di sumur yang tidak berkaitan dengan well testing. Intinya adalah selesaikan target kerja dengan hasil terbaik pada waktu yang disepakati, terserah mau kapan mengerjakannya.
  • Gaji yang cukup.

-Kerugiannya :

  • susah janjian karena waktu libur yang tidak bisa dipastikan. Tetapi ini tidak berarti jatah libur saya berkurang, tetap utuh misalnya 16 minggu setahun, hanya saja tidak bisa diambil sesuai kemauan kita kecuali kondisi darurat dan alasan personal misal menikah. Dan ini cukup menyebalkan karena acara pernikahan teman, reuni, kumpul-kumpul teman lama, traktiran ultah, seringkali diadakan pada saat saya sedang tidak libur :(.
  • kehidupan sosial kurang seimbang dengan kehidupan kerja.
  • tidak bisa bergereja secara tetap di hari minggu. Yang paling saya rindukan adalah kehidupan berkomunitasnya untuk saling membangun dan berbagi.
  • tidak bisa berolahraga secara rutin.*

Demikianlah sekilas keuntungan dan kerugian menjadi seorang well tester di sebuah oil service company. Tentu anda pun punya di tempat kerja masing-masing, kalau mau berbagi silakan ditulis di komen ya…

 

Erbil, Iraq

*alasan yang dibuat-buat untuk tujuan pencitraaan tampak sporty.

Gambar di atas diambil dari situs ini.

 

May 31, 2012

Surface Well Testing : Sebuah Pengantar

Filed under: Well Testing — Tags: , , , , — Gugus Syuhada @ 1:29 am

Untuk melakukan tes sebuah reservoir dengan akurat, suatu tes haruslah dilakukan pada bagian downhole dan surface. Karena teknologi pada saat postingan ini ditulis, sependek pengetahuan saya, belumlah memungkinkan untuk dilakukan seluruh tes di bagian downhole sehingga diperlukan tes pada bagian surface  (surface testing). Untuk melakukannya, sebuah reservoir harus berada pada kondisi dinamis. Hal ini berarti reservoir haruslah “diganggu” untuk menghasilkan perubahan pressure yang akan direkam dan diinterpretasi dengan perhitungan flowrate untuk mendapatkan informasi mengenai sumur dan parameter reservoir.

“Gangguan” terhadap reservoir ini dilakukan tergantung pada kondisi apakah sumur sedang ditutup ataukah berproduksi :

  • Jika sedang ditutup untuk jangka waktu yang lama, membuka sumur atau membuatnya berproduksi merupakan cara terbaik untuk membuat perubahan pressure. Hal ini disebut drawdown.
  • Jika sumur sedang berproduksi untuk jangka waktu yang lama, perubahan pressure dilakukan dengan cara menutup sumur. Hal ini disebut buildup. Perubahan pressure pun bisa dilakukan dengan cara menaikkan atau menurunkan flowrate pada sumur yang berproduksi/mengalir.

Pada bidang ilmu reservoir engineering, waktu dimana sumur mengalami perubahan pressure disebut dengan pressure transient. Di surface, fluida baik minyak ataupun gas pada saat pressure transient haruslah ditangani oleh satu set equipment sementara. Hal ini disebabkan karena fasilitas produksi yang permanen belumlah tersedia. Surface well testing equipment sementara ini harus bisa digunakan dengan aman untuk :

  • mengatur pressure dan flowrate di surface secara cepat dan bisa juga untuk menutup sumur
  • memisahkan effluent (fluida yang dihasilkan dari sumur) menjadi tiga bagian yaitu gas, minyak dan air dan mengukur flowrate-nya
  • mengambil sampel di surface 
  • membuang fluida yang diproduksi secara aman dan ramah bagi lingkungan.

Untuk melakukan fungsi seperti di atas, berikut adalah daftar equipment yang biasa digunakan surface well testing:

  • Flowhead
  • Choke manifold
  • Emergency Shut Down (ESD) system
  • Heat exchanger
  • Separator
  • Tangki
  • Pompa transfer
  • Manifol minyak dan gas
  • Burner
  • Pipa

Kalau sudah tidak sabar untuk mengetahui penjelasan masing-masing fungsi dan seperti apa bentuk equipment tersebut, bisa cari sendiri di  http://www.glossary.oilfield.slb.com/. Sedangkan untuk melakukan pengaturan dan pemilihan equipment yang akan digunakan minimal terdapat dua faktor yang menjadi pertimbangan yaitu :

1. Faktor lokasi

Lokasi darat atau laut (onshore/land atau offshore/lepas pantai). Perbedaan keduanya bisa dibaca postingan saya yang ini.

2. Faktor kondisi sumur

  • pressure dan flowrate tinggi
  • jenis kandungan effluent (misal jika diperkirakan akan ada pembentukan hydrate diperlukan pompa injeksi)
  • kandungan pasir
  • fluida yang bersifat korosif (H2S, CO2 dan zat asam)

Kalau ada yang mau ditambahkan atau yang dibagi mengenai pengantarsurface well testingboleh dituliskan di bagian komen di bawah.

Erbil, Iraq

May 22, 2012

Jika seorang well tester sedang galau

Filed under: Well Testing — Tags: , , , , — Gugus Syuhada @ 4:16 am

Dengan bekerja jauh dari rumah dan keluarga, baik istri maupun orang tua. Saya tentu saja bisa galau. Bayangkan saja, berpisah minimal enam minggu dengan komunikasi yang terbatas email, chatting via yahoo messenger, sms, ataupun skype. Beruntung sekarang ada bbm sehingga lebih mudah, murah dan tidak tergantung koneksi internet. Saya tidak bisa melihat sehari-hari wajah istri saya, ngelus-elus rambutnya yang besar, pegangan tangan kalau lagi jalan (yang ada cuma pegangan handle choke manifold atau hammer), atau sekedar cium pipinya ketika bangun pagi hari (duuuh, nyesek sendiri nulis gini). Tetapi sudahlah saya musti move on. Saya musti bisa menghilangkan kegalauan hati ini dengan berbagai cara. Berikut ini adalah cara-caranya :

1. Nonton film

Tidak seperti jika berada di kota yang bisa dengan mudahnya pergi ke bioskop, pilih film terbaru yang cocok dengan selera, beli tiketnya, tunggu waktu main dan duduk nonton.  Di rig, yang bisa saya lakukan adalah nonton film di laptop pembagian  kantor yang tentu saja sudah dilengkapi berbagai macam software movie player  beserta codec-nya.  Filmnya bisa berasal dari koleksi yang ada di hard disc portabel (lihat post saya sebelumnya tentang 10 things a well tester must have) yang cukup banyak karena sering tukar-tukaran koleksi dengan well tester lainnya atau teman-teman yang dijumpai di rig. Bisa juga berasal dari DVD film bajakan yang dibeli di glodok. Kalau mau murah bisa beli langsung seratus biji dengan harga 2500 perak saja, dengan satu syarat tidak bisa dicoba. Yaiyalah, mau berapa jam nyobanya? Dari banyaknya koleksi yang dipunya, saya berusaha menghindari film-film romantis (U know why) dan berusaha menonton film-film aksi atau dokumenter sekalian. Dan saya paling suka menonton film seri, karena pembunuh waktu yang efektif, saking efektifnya bisa merusak jam tidur dan musti dihindari jika sedang rig up atau rig down.

2. Baca buku / novel

Saya seringkali menghabiskan baca satu buku utuh jika berada di rig daripada di rumah pada saat off. Contohnya saya menghabiskan Nagabumi 1 dan 2 di Iran, semua buku Malcolm Gladwell yang diterbitkan Gramedia, Biografi Steve Jobs, History of the Arabs, Anak Desa (Biografi pak Harto), dan lain-lain. Kok ga ada buku tentang well testing ? Yaah, lagi galau masa disuruh belajar.

3. Ngobrol dengan teman-teman dari perusahaan lain

Jika beruntung, biasanya bisa bertemu dengan orang dari Indonesia atau serumpun, Malaysia. Jadi bisa berasa di negeri sendiri dan ga perlu mikir sebelum ngomong pakai bahasa inggris. Obrolannya bisa ngalor ngidul, mulai dari kerjaan, pengalaman-pengalaman kerja yang kadang-kadang lucu, membanggakan, menyeramkan atau sedih, tentang politik, usaha yang dimiliki, dan keluarga. Kalau sudah ngomong tentang keluarga saya bisa jadi ingat rumah dan istri, dan terpaksa saya mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik-topik lain. Kalau tidak berhasil, sudah saatnya mengeluarkan alasan klasik dengan cara pura-pura menguap dan bilang sudah mengantuk. Lagi-lagi, orang sudah galau kok diingetin tentang keluarga. Move on dong.

4. Bersih-bersih kontainer atau area testing

Meski ini jarang dilakukan, tapi cukup efektif juga menghilangkan rasa galau di hati. Selain itu bikin tempat kerja jadi rapi dan bersih.

5. Main game

Karena tidak terlalu suka game berat, maksimal need for speed, biasanya cukup game-game ringan seperti Zuma revenge, bounce,feeding frenzy, pizza frenzy dan sejenisnya. Yah maklum udah tua, game-nya game jadul. Atau juga bisa main catur meski harus cari lawan main terlebih dahulu. Kalau dulu sih, bisa maen gaple atau remi karena semuanya suka main kartu.

Kelima cara di atas adalah yang biasanya saya lakukan. Tetapi ada juga cara-cara lain yang saya dapat dari teman-teman yang lain, yaitu :

  • Browsing internet. Bisa tentang hobi masing-masing misal mobil dan info-info seputarnya, situs jejaring sosial dulu friendster atau orkut tergantung asal negara, sekarang facebook dan twitter. Inipun kalau beruntung dapat koneksi internet. Saya ada teman, yang bisa hanya buka facebook dan bermain-main dengannya 10 jam terus-menerus.
  • Foto-foto. Jika punya hobi fotografi dan kamera.
  • Otak-atik excel atau macro-nya. Sangat-sangat positif. Wajar saja sekarang teman ini sudah jadi manajer.
  • Merokok atau shisha.
  • Memancing. Ada beberapa rig yang mengijinkan selama itu dilakukan pada jam-jam off shift. Biasanya hasil pancingan diserahkan tukang masak dan dihidangkan pada saat jam makan. Dan ikan yang benar-benar segar (hanya beberapa jam dari dipancing) ternyata sangat-sangat dahsyat rasanya saudara-saudara mau dimasak dengan cara apapun.
Sekianlah berbagai cara yang biasa saya dan teman-teman lakukan jika sedang galau tapi tidak bisa pulang dengan mudahnya. Sekarang pertanyaannya, apakah cara-cara di atas berhasil ? Ah, kayak yang tidak pernah galau saja.

 

Duhok, Iraq.

May 19, 2012

Beberapa kisah di industri perminyakan

Filed under: Well Testing — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 5:00 am

“it’s your attitude not your aptitude to make You altitude”

– Zig Ziglar

Dua tahun lalu saya berjumpa dia sebagai sopir mobil antar jemput personel perusahaan downhole tester. Sekarang, secara kebetulan kami bertemu lagi di sebuah rig, ia menjadi salah satu personel di perusahaan downhole tester tersebut. Kemudian ada seorang dari Bangladesh yang dua tahun lalu bekerja sebagai room boy di guest house. Di rig yang sama saya berjumpa dia sebagai operator cementing. Ada juga seorang bapak yang kini tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Barat yang menjadi driller padahal dulunya adalah seorang sopir angkot. Beberapa orang yang saya jumpai di rig dengan berbagai macam posisi juga mengaku berlatar belakang jauh berbeda dari yang dikerjakan sekarang. Ada yang dulunya adalah anggota sekuriti, mantan tentara, pekerja tambang, buruh pabrik, sopir taksi, dan tukang las. Beberapa kesamaan dari mereka adalah keberanian untuk merantau, pekerja keras atau rajin dan mau belajar terutama bahasa (Inggris). Di dunia minyak yang sempit ini, bahasa Inggris paling banyak digunakan sebagai sarana komunikasi karena beragamnya latar belakang asal pekerjanya. Dan inilah yang membuat, menurut saya, pekerja asal India dan Negara-negara pecahannya yang dulu pernah dijajah Inggris banyak berada di kawasan Timur Tengah. Keahlian ini juga lah yang membuat ada kawan yang meskipun tak seberapa berpengalaman bisa naik hingga ke level manajemen sedangkan kawan yang lain karena kurang ahli berbahasa Inggris membuatnya tertahan di level yang itu-itu saja meskipun sangat bagus kemampuan dan pengalamannya. Dari berbagai kisah di atas, saya mendapat kesan bahwa sikap kerja dan kemampuan bahasa inggris-lah yang paling memberi pengaruh jika bekerja di industri perminyakan.

 

Duhok, Iraq

May 16, 2012

You forget You F*cked up

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 7:12 am

Sama halnya dengan postingan di bawah. Ini sebenarnya postingan lama bertanggal 13 Maret 2007 di blog iseng-iseng saya.

Dalam dunia per-Testing-an, ada suatu semboyan yang menurut saya sangat mengena dan pas. Bukannya Nobody’s gets hurts seperti punya Rasgas atau Safety first seperti hampir semua perusahaan punya semboyan tapi You forget You f**ked up. Di testing dari semua equipment yang dipunya hampir semua punya valve, dan semuanya penting. Salah satu lupa buka atau tutup bakalan f**ked up. Gak ada yang enggak penting. Waktu operasi valve juga begitu, harus buka satu dulu baru tutup yang lainnya. Kalo lupa, lagi f**ked up. Selain valve juga ada pernak-pernik lain yang mesti diinget, chart di foxboro diganti setiap hari di jam yang sama. Setelah valve ada propane, angin dari kompresor, line up ke burner ketika mau flowing, kalo lupa f**ked up. Belum lagi masalah safety meeting, work permit, pressure rating, color code, data yang harus diambil, parameter well sudah clean atau belum, bahkan putaran sebuah valve pun harus ingat, oya setelah menghitung putaran tersebut harus diputar balik seperempat putaran. Buanyak banget. Gak susah, tapi banyak dan harus ingat semua. Kalo lupa, f**ked up. Jadi pesen dari seorang teman dari Syiria saya cantumkan untuk menutup blog ini : “If You wannabe a well tester just be a good reminder person, because if You forget You f**ked up.

 

Teluk Persia, Perairan Qatar

Older Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: