Gugus Syuhada

August 27, 2014

Rig Offshore Jack Up

Filed under: Oil and Gas — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 9:44 pm

Berikut adalah beberapa foto untuk menunjukkan seperti apa rig offshore Jack Up.

 

 

 

Serpong, Tangerang

 

 

 

 

Advertisements

January 14, 2014

Jenis-jenis rig pengeboran offshore

Filed under: Oil and Gas — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 6:11 pm

Sekitar 25% minyak dan gas dunia yang diproduksi sekarang berasal dari lapangan offshore (lepas pantai)  seperti North Sea dan Gulf of Mexico. Meskipun memiliki prinsip yang sama dengan pengeboran di darat, ada beberapa penyesuaian tertentu pada prosedur and peralatan yang digunakan untuk mengatasi bahaya dari lingkungan yang menantang dan berat. Berbagai macam rig offshore dibagi berdasarkan kedalaman air dimana rig tersebut bisa beroperasi. Berikut adalah pembagiannya :

Rig vs water depth

1.  Rig Darat

Rig ini beroperasi di darat. Tidak dibahas detail di postingan ini. Perbedaan dengan rig offshore bisa dibaca di sini.

2.  Barge/kapal tongkang

Kapal berpermukaan datar dan rata, mengapung di perairan dangkal yang dilengkapi dengan rig pengeboran. Biasa beroperasi di perairan dangkal seperti sungai atau laut dangkal.

3.  Jack up Rig

Rig yang memiliki tiga kaki yang bisa digerakkan ke bawah hingga dasar laut untuk menopang rig pengeboran di suatu posisi yang tetap. Jack up rig didesain untuk beroperasi di lautan hingga kedalaman 350 feet (107 meter). Beberapa foto rig jenis ini bisa dilihat di sini.

4.  Fixed platform (steel jacket)

Fixed platform  adalah jenis platform offshore yang digunakan untuk produksi minyak atau gas. Platform ini dibangun pada beton dan / atau kaki baja yang berpondasi langsung di dasar laut. Platform ini bisa dimuati dek dengan ruang untuk rig pengeboran, fasilitas produksi dan akomodasi personel.

5.  Rig Semi-submersible

Rig Semi-submersible adalah rig yang tidak memiliki penopang di bawah tetapi mengapung di air (rig seperti ini biasa disebut “floaters”). Rig ini bisa beroperasi di kedalaman laut hingga 3500 feet (1007 meter).

6.  Drillships

Untuk pengeboran di kedalaman laut hingga 7500 feet (2286 meter) digunakanlah drillship.

 

Serpong, Tangerang

 

October 10, 2012

Cycling cadence demi efisiensi energi bersepeda

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 10:34 pm

Pertama kali mendengar kata cadence (pada saat itu yang ada dalam pikiran saya, tulisannya adalah cadance) yaitu ketika saya mengeluh kepada mas saya tentang susahnya naik tanpa menuntun sepeda di tanjakan-tanjakan trek Jalur Pipa Gas (JPG). Dia menyarankan saya berlatih cadence, yaitu mengayuh sepeda secara cepat pada gear kecil (ringan dikayuh) selama menggunakan sepeda. Pertama kali dicoba rasanya susah sekali. Di jalan datar atau menurun, adakalanya kayuhan sepeda seperti mengawang tidak ada beban sehingga seperti tergelincir. Akhirnya saya menyerah, dan menaikkan gear sepeda ke besar (berat dikayuh). Dan saya melupakan saran dari mas saya tersebut, kembali ke cara lama saya bersepeda.

Dua minggu setelah itu, saya mendapatkan assignment ke offshore Qatar. Di rig Noble Jimmy Pucket, tempat kita melakukan well testing, terdapat gym yang memiliki sepeda statis. Hasrat bersepeda saya muncul dan saya teringat lagi saran dari mas saya. Dengan niatan meningkatkan kemampuan menaklukan tanjakan-tanjakan JPG, saya pun googling “latihan cadence, cycling cadence training, cadence dll”. Dari situ saya mulai mendapatkan teori dan gambaran yang lebih baik sehingga bisa berlatih cadence menggunakan sepeda statis tersebut.

Cadence adalah jumlah putaran penuh pedal yang dilakukan dalam satu menit (rotation per minute/rpm). Menurut studi, Lance Armstrong, juara Tour de France 6 kali menerapkan cadence tinggi di atas 100 rpm. Pertanyaannya adalah apa hubungannya? Apa keuntungan dari cadence tinggi?

Jadi begini , setiap kayuhan pedal otot kita akan berkontraksi dan berelaksasi. Di setiap kontraksi dan relaksasi otot membutuhkan energi. Tidak hanya itu, setiap kontraksi otot akan menghasil asam laktat yang jumlahnya tergantung seberapa besar kekuatan kontraksi tersebut. Dengan melakukan cadence yang berpengaruh pada kecepatan dan kekuatan kontraksi otot, jumlah asam laktat di dalam darah dan jumlah energi yang digunakan akan terpengaruh juga. Misalnya, kita sedang bersepeda menanjak dengan gigi besar (berat dikayuh). Kita mungkin hanya dapat cadence sekitar 70 rpm dan menghasilkan kecepatan sebesar 20km/jam karena kayuhannya berat. Selain itu, karena setiap tekanan pedal relatif lambat dan berat, kita membutuhkan banyak energi dan menghasilkan banyak sekali asam laktat – sebuah latihan yang bersifat anaerobik. Seperti halnya latihan angkat beban. Lengan kita akan mudah lelah meskipun hanya mengangkat sebuah beban yang berat beberapa kali saja. Hal ini dikarenakan asam laktat diproduksi dengan cepat. Karena dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk membersihkannya dari dalam darah kita pun butuh waktu yang lama untuk pulih. Alternatifnya adalah kita harus meningkatkan kecepatan cadence dan mengayuh gear kecil. Hal ini akan lebih bersifat aerobik dibandingkan gear besar. Kembali ke contoh menanjak sebelumnya : sekarang kita mengecilkan gear sehingga dibutuhkan cadence yang lebih tinggi untuk mendapatkan kecepatan yang sama. Lalu dimana keuntungannya, kan kecepatanya tetap sama. Betul, tapi, kita menggunakan tenaga yang lebih sedikit setiap putaran sehingga asam laktat tidak terbentuk dan kita bisa menjaga kecepatan lebih lama dan pulih lebih cepat – latihan yang bersifat aerobik. Hal ini berprinsip sama dengan gear di mobil : kita akan menggunakan gigi 1 atau 2 pada saat menanjak untuk meningkatkan kecepatan engine.

Setelah mendapat teori yang cukup, mulailah saya berlatih untuk mendapatkan cadence sekitar 80-90 rpm. Yang penting napas saya kuat. Senyamannya saya saja. Tidak mudah ternyata, seringkali kaki tergelincir dan pedal kena ke tulang kering. Tapi seiring berjalannya waktu, saya semakin terbiasa dan waktu luang di rig bisa saya manfaatkan untuk hal-hal yang sehat. Tidak sabar rasanya, untuk menjajal hasil latihan di JPG.

 

Serpong, Tangerang Selatan

June 11, 2012

Bekerja di Rig Offshore

Filed under: Well Testing — Tags: , , , , , — Gugus Syuhada @ 1:16 am

Daripada sebel mantengin mivo.tv buat streaming Euro 2012 antara Italia dan Spanyol* di RCTI yang mondag-mandeg, saya sambi bikin postingan ini. Jika sebelumnya saya menampilkan penampakan bekerja di rig onshore. Maka di postingan yang ini saya beri penampakan bekerja di laut alias offshore alias lepas pantai. Dua foto pertama diambil di perairan Qatar di Teluk Persia dan foto ketiga diambil di Laut Jawa. Foto ketiga merupakah foto yang bisa dilakukan oleh well tester jika sumurnya mengalir/flowing atau tidak dry hole/tidak memproduksi hidrokarbon sehingga ada yang bisa dibakar di burner atau gas flare. Ada berbagai variasi pose dan di foto itu saya memilih pose “napas naga”.

Layout well testing

Wellhead Platform

Napas Naga

*skor akhir Italia 1 : Spanyol 1. Update dari Tempo.co bukan dari Mivo.tv.

Erbil, Iraq

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: