Gugus Syuhada

October 10, 2013

Apa yang dibutuhkan untuk bekerja di industry migas

Filed under: Uncategorized — Tags: , , — Gugus Syuhada @ 7:33 pm

“it’s your attitude not your aptitude to make altitude”

Zig Ziglar

Dua tahun lalu saya berjumpa dia sebagai sopir mobil antar jemput personel perusahaan downhole tester. Sekarang, secara kebetulan kami bertemu lagi di sebuah rig, ia menjadi salah satu personel di perusahaan downhole tester tersebut. Kemudian ada seorang dari Bangladesh yang dua tahun lalu bekerja sebagai room boy di guest house. Di rig yang sama saya berjumpa dia sebagai operator cementing. Ada juga seorang bapak yang kini tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Barat yang menjadi driller padahal dulunya adalah seorang sopir angkot. Beberapa orang yang saya jumpai di rig dengan berbagai macam posisi juga mengaku berlatar belakang jauh berbeda dari yang dikerjakan sekarang. Ada yang dulunya adalah anggota sekuriti, mantan tentara, pekerja tambang, buruh pabrik, sopir taksi, pelayan di restoran, dan tukang las. Beberapa kesamaan dari mereka adalah keberanian untuk merantau, pekerja keras dan mau belajar terutama bahasa (Inggris). Di dunia minyak yang sempit ini, bahasa Inggris paling banyak digunakan sebagai sarana komunikasi karena beragamnya latar belakang asal pekerjanya. Dan inilah yang membuat, menurut saya, pekerja asal India dan negara-negara pecahannya yang dulu pernah dijajah Inggris banyak berada di kawasan Timur Tengah. Pasti masih ada banyak faktor lain yang dibutuhkan dan banyak cerita-cerita sukses lainnya. Saya hanya mendapatkan sebagian saja yang bisa saya tuliskan di sini. Semoga bermanfaat kalau ada yang membutuhkan.

 

Halfaya, Iraq

Advertisements

October 8, 2013

Jurusan kuliah untuk bekerja di industri migas

Filed under: Oil and Gas — Tags: , , , , — Gugus Syuhada @ 4:54 pm

Seminggu lalu di milis migas indonesia (migas_indonesia@yahoogroups.com / website : migas-indonesia.com) ramai didiskusikan tentang jurusan apa yang banyak bekerja di industri migas. Hal ini bermula dari seorang anggota yang bertanya kepada anggota lainnya yang cukup aktif menulis, tentang apa jurusan kuliahnya dahulu. Ia beralasan ingin memberi pertimbangan kepada anaknya dalam memilih jurusan kuliah yang bisa membawanya nanti bekerja di industri migas. Dari situ berkembang, tidak hanya anggota yang ditanya yang menjawab bahwa dia adalah lulusan teknik mesin namun sebenarnya semua jurusan dibutuhkan. Anggota-anggota lainnya pun ikut aktif berdiskusi, ada yang membuat daftar bagian atau bidang-bidang di industri migas diselaraskan dengan jurusan kuliah yang cocok dan yang kemudian dilengkapi oleh anggota lainnya. Ada pula yang menekankan salah satu jurusan yaitu teknik mesin atau teknik kimia lah jurusan yang paling dibutuhkan beserta data-data yang valid dan peta sebaran lulusan teknik kimia. Benarkah demikian ? Bagaimana dengan jurusan-jurusan “tuan rumah” industri migas seperti teknik perminyakan, teknik geodesi, teknik fisika, dan teknik  kelautan ? Untuk lebih lengkapnya silakan lihat langsung di milis.

Saya di sini bukan mau membahas jurusan apa yang terbaik untuk berkarir di industri migas, meskipun masih berkaitan. Saya jadi tertarik untuk melihat apa jurusan kuliah para CEO-CEO dari perusahaan operator minyak dan service (termasuk drilling). Saya berpikir dari situ mungkin bisa dilihat jika ada satu atau dua jurusan yang paling banyak dipilih oleh para CEO, bisa jadi itu adalah jurusan yang paling cocok dan berpeluang besar untuk sukses dalam berkarir di industri migas. Mungkin juga jika ada orang tua yang memikirkan sejak dini untuk anaknya jadi CEO, tidak hanya sekedar bisa bekerja di industri migas, bisa berkaca dari mereka dalam menyarankan jurusan kuliah. Namun dengan asumsi faktor-faktor selain jurusan kuliah diabaikan. Sumber dari daftar ini adalah murni internet, karena adalah umum untuk sebuah perusahaan terbuka memaparkan cv dan kompensasi para key person-nya. Berikut adalah daftarnya (updated 8 Oktober 2013) :

A. Operator company

  1. Rex Tillerson  (ExxonMobil Corp.) — Teknik Sipil  University of Texas at Austin
  2. Ben van Beurden (Royal Dutch Shell plc.) — Teknik Kimia  Delft University of Technology
  3. Robert Dudley (BP plc) — Teknik Kimia  University of Illinois
  4. John S. Watson (Chevron Corp.) — Agricultural Economics  University of California at Davis
  5. Ryan M. Lance (ConocoPhillips) — Teknik Perminyakan  Montana Tech in Butte
  6. John Hess (Hess Corp.) — Administrasi Bisnis  Harvard College
  7. Christophe de Margerie (Total SA) — Finance  Ecole Superieure de Commerce
  8. Zhou Jiping (Petrochina Ltd) — Marine Geologic Structure Nanhai Marine Research Institute of the Chinese Academy of Sciences
  9. Karen Agustiawan (Pertamina) — Teknik Fisika  Institut Teknologi Bandung
  10. Tan Sri Shamsul Azhar Bin Abbas (Petronas) — Ilmu Politik  Science University of Malaysia
  11. Viktor Alekseyevich Zubkov (Gazprom) — Jurusan Ekonomi Leningrad Agriculture Institute
  12. Hilmi Panigoro (MedcoEnergi) — Teknik Geologi  Institut Teknologi Bandung
  13. Paolo Scaroni (Eni SpA) — Ekonomi Bisnis  Universita Commerciale Luigi Bocconi
  14. Roger W. Jenkins (Murphy Oil Corp.) — Teknik Perminyakan  Louisiana State University
  15. Svein Rennemo (Statoil) — Jurusan Ekonomi  Universitet i Oslo

B. Service and drilling Company 

  1. Paal Kibsgaard (Schlumberger Ltd.) — Teknik Perminyakan Norwegian Institute of Technology
  2. David J. Lesar  (Halliburton Company) — Akuntansi University of Wisconsin-Madison
  3. Bernard J. Duroc-Danner (Weatherford International Ltd.) — Finance  University of Pennsylvania – The Wharton School
  4. Martin S. Craighead (Baker Hughes Inc.) — Teknik Perminyakan dan Gas Alam  Pennsylvania State University
  5. Ralph S. Cunningham (TETRA Technologies Inc.) — Teknik Kimia  Auburn University
  6. Jack B. Moore (Cameron International Corp.) — Keuangan dan Pemasaran  University of Houston
  7. Merrill A. Miller Jr. (National-Oilwell Varco, Inc/NOV) — Ilmu dan Teknik Terapan U. S. Military Academy at West Point
  8. Julio M. Quintana (Tesco Corp.) — Teknik Mesin  University of Southern California
  9. John T. Gremp (FMC Technologies Inc.) — Jurusan Bisnis  Lewis and Clark College
  10. David W. Williams (Noble Corp.) — Administrasi Bisnis Pemasaran  Texas University
  11. Daniel W. Rabun (ENSCO plc) — Akuntansi  University of Houston
  12. Steven L. Newman (Transocean Ltd.) — Teknik Perminyakan   Colorado School of Mines
  13. Lawrence R. Dickerson (Diamond Offshore Drilling Inc.) — Administrasi Bisnis  University of Texas
  14. Elia Massa (Elnusa Tbk.) — Teknik Sipil  Institut Teknologi Bandung
  15. Hertriono Kartowisastro (Apexindo Pratama Tbk) — Teknik Elektro  Institut Teknologi Bandung

Dari 30 orang-orang penting di atas, terdapat 15 orang yang memiliki latar belakang jurusan teknik.  Ada tujuh orang CEO berlatar belakang sarjana Teknik Perminyakan atau Geologi yang boleh dibilang merupakan jurusan inti industri migas. Diikuti Teknik Kimia sebanyak tiga orang dan Teknik Sipil dua orang. Teknik mesin, Teknik Fisika, dan Teknik Elektro diwakili masing-masing satu orang. Sisanya rata-rata berhubungan dengan bisnis, ekonomi, akuntansi atau keuangan. Ada satu orang yang jurusannya relatif jauh dengan urusan migas yaitu CEO Petronas yang memiliki gelar Sarjana Ilmu Politik. Yang menarik selain setengah jumlah dari orang-orang di atas berjurusan ekonomi adalah ada beberapa orang seperti CEO BP dan Murphy Oil, yang berlatar belakang S1 teknik, mereka juga mengambil MBA untuk kelanjutan studinya. Jadi apakah jurusan teknik perminyakan atau geologi untuk S1 (harus ITB kalau di Indonesia melihat 4 orang dalam daftar semuanya adalah lulusan Ganesha) dan Master di bidang ekonomi (MBA, finance, marketing dsj) untuk S2 adalah kombinasi yang tepat menuju karir puncak di industri migas  ? Silakan kalau mau dijadikan pertimbangan atau mungkin ada pendapat lain ?

 

Halfaya, Iraq

June 4, 2012

Untung rugi bekerja di oil service company

Filed under: Oil and Gas, Well Testing — Tags: , , , , — Gugus Syuhada @ 2:27 am

Postingan ini murni pendapat pribadi tanpa ada tekanan dari siapapun :). Karena kalau kata orang bule, “one man’s meat is another man’s poison”. Apa yang saya bilang keuntungan mungkin saja adalah kerugian buat orang lain. Sehingga daftar di bawah hanya mewakili saya dan bukan pekerja di oil service company pada umumnya. Kalaupun sama itu hanya kebetulan belaka (kaya disclaimer di sinetron wiro sableng saja).

 

 

+ Keuntungannya :

  • berkesempatan memiliki pekerjaan dengan tantangan yang berbeda-beda. Baik itu tempat kerja karena berpindah-pindah dari rig  atau sumur yang satu ke lainnya, dari yang di pinggir kota, tengah hutan, gurun, puncak bukit hingga ke tengah laut, ataupun teman bekerja baik itu  dari kru rig dan klien (oil company). Hal ini membuat saya harus belajar untuk cepat beradaptasi di berbagai tempat dan menghadapi berbagai macam jenis sifat orang yang sampai sekarang pun tetap saja susah. Jujur dan percaya diri adalah kunci utamanya.
  • sering jalan-jalan. Karena lokasi kerja mengikuti lokasi sumur punya klien (yang berbeda-beda) ya terpaksa saya harus sering jalan-jalan menuju lokasi kerja. Kalau beruntung bisa menikmati kota yang cantik dan hotel bintang lima.
  • bisa naik helikopter :). Ya, karena kadang-kadang sumurnya berada di tengah laut dan kalau naik kapal kelamaan.
  • flexible working hours. Meskipun kadangkala saya harus bekerja 24 jam nonstop atau lebih karena diburu waktu untuk segera buka sumur dan melakukan tes tetapi kadangkala saya juga bisa relaks 2 hari berturut-turut jika ada operasi di sumur yang tidak berkaitan dengan well testing. Intinya adalah selesaikan target kerja dengan hasil terbaik pada waktu yang disepakati, terserah mau kapan mengerjakannya.
  • Gaji yang cukup.

-Kerugiannya :

  • susah janjian karena waktu libur yang tidak bisa dipastikan. Tetapi ini tidak berarti jatah libur saya berkurang, tetap utuh misalnya 16 minggu setahun, hanya saja tidak bisa diambil sesuai kemauan kita kecuali kondisi darurat dan alasan personal misal menikah. Dan ini cukup menyebalkan karena acara pernikahan teman, reuni, kumpul-kumpul teman lama, traktiran ultah, seringkali diadakan pada saat saya sedang tidak libur :(.
  • kehidupan sosial kurang seimbang dengan kehidupan kerja.
  • tidak bisa bergereja secara tetap di hari minggu. Yang paling saya rindukan adalah kehidupan berkomunitasnya untuk saling membangun dan berbagi.
  • tidak bisa berolahraga secara rutin.*

Demikianlah sekilas keuntungan dan kerugian menjadi seorang well tester di sebuah oil service company. Tentu anda pun punya di tempat kerja masing-masing, kalau mau berbagi silakan ditulis di komen ya…

 

Erbil, Iraq

*alasan yang dibuat-buat untuk tujuan pencitraaan tampak sporty.

Gambar di atas diambil dari situs ini.

 

May 5, 2009

Personal Brand dan Karir

Filed under: Management — Tags: , , — Gugus Syuhada @ 4:19 pm
You are a Brand

You are a Brand

Tidak ada perusahaan sebesar apapun yang bisa dijadikan pegangan dalam menjamin kehidupan kita jika kita bekerja di sana. Krisis finansial yang berlanjut dengan krisis ekonomi yang menimpa negara-negara dengan ekonomi kuat seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa telah membuktikannya. Untuk itu posisi produk dari Me Inc. (istilah yang berarti perusahaan dengan produk tunggal diri kita sendiri oleh Tom Peters, penulis artikel “Brand called You” dalam majalah FastCompany) adalah penting. Dan tanggung jawab terbesar kita dalam Me Inc. ini adalah menjadi kepala pemasaran brand “YOU”/”ANDA”.

Kita akan lebih mudah mengingat dan mengenal orang dengan mengasosiasikan orang tersebut dengan cirinya yang menonjol. Misalnya, si Amir yang pintar atau si kutu buku Diana, atau pernah dengar pendapat seperti ini “kalo mau belajar masalah cowok tanya aja si Siska tuh, pengalamannya banyak”, Dhirga-penyelam, Andika-GAM, Eko-Jawa, dan lain-lain. Dengan memperkuat ciri-ciri positif yang mendukung brand kita, lama-kelamaan orang akan mempercayai bahwa itu sudah menjadi paten kita dan kalau butuh sesuatu yang berkaitan dengan brand kita maka orang akan otomatis mengingat dan menghubungi kita. Seperti halnya penyebutan air mineral dalam kemasan dengan Aqua, pompa air dengan Sanyo, sepeda motor dengan Honda (khususnya orang dulu atau daerah tertentu), in-line skate dengan Rollerblade, dan lain-lain.

Lantas bagaimana cara membangun personal brand yang bisa mendukung karir kita? Berterimakasihlah kepada teknologi yang menciptakan adanya blog (sebagai awal yang baik untuk mulai memasarkan brand kita). Karena dengan semakin mendatarnya dunia, seperti yang ditulis oleh Friedman, tidak ada lagi batas yang memisahkan kita semenjak kita memasuki era web 2.0. Era dimana kita bisa mengakses dunia lewat internet dimana saja dengan perangkat yang semakin beragam mulai dari PC, handphone, laptop, dan lain-lain. Sehingga tulisan-tulisan dalam blog untuk memasarkan brand kita memiliki kesempatan untuk diakses oleh seluruh pengguna internet di dunia terlebih dengan adanya mesin pencari Google, orang sekarang cenderung untuk mencari informasi melalui internet.

Dengan memulai mengidentifikasi brand kita,yang membedakan kita dengan orang lain, yang membuat kontribusi kita terhadap lingkungan tidak bisa diganti sebaik atau bahkan mustahil jika bukan kita yang melakukannya, kita harus tiap-tiap hari semakin memperkuatnya sehingga orang mau “membelinya”. Dan hal ini tidak bisa instan, seperti pada umumnya, adalah wajar jika banyak perusahaan besar menghabiskan jutaan bahkan miliaran rupiah hanya agar brand-nya mengasosiasi pada produk tertentu. Misalnya Djarum Black dengan rokok untuk orang muda yang cerdas (djarum black innovations), mapan (Djarum Black Auto Contest), dan kreatif yang berpikir di luar kotak (Think Black!), Axe merupakan parfum pria yang digemari wanita, dan kalau bicara iklan kampanye pemilu yang lalu PKS boleh dibilang cukup kreatif dalam mengiklankan diri sebagai partai bersih, profesional dan peduli. Sehingga kita pun harus banyak menginvestasikan waktu, tenaga, dan uang untuk mulai membangun dan memasarkan brand kita. Tidak harus memulai dengan hal-hal yang besar, selain membuat dan rutin mengisi blog, kita bisa memulai dengan menjadi notulen dalam rapat-rapat yang sering diadakan di kantor untuk membuat dokumentasi yang bisa digunakan sebagai acuan dalam tindakan continuous improvement.

Tahap selanjutnya adalah melupakan semua yang biasanya menjadi definisi apa yang harus kita lakukan. Lupakan titel pekerjaan dan fokus terhadap kegiatan-kegiatan yang memberi nilai tambah pada brand kita, yang harus kita selesaikan agar kita bisa “berlagak” tanpa rasa malu karena tidak bisa membuktikannya. Jika kita menjadi brand, kita harus terus-menerus fokus pada nilai-nilai yang membuat kita bangga dan tidak malu untuk mengambil kontribusi sesuai brand kita. Setelah itu be visible! Jika kita lebih bagus menjadi penulis daripada menjadi guru, kita bisa memulai menulis sesuai dengan brand kita di koran-koran lokal. Jika kita bisa memulainya itu menjadi akan menjadi salah satu isi yang baik dalam resume kita. Sebaliknya jika kita lebih bagus menjadi pembicara daripada penulis, maka kita bisa memulainya dengan mengisi presentasi di dalam workshop lingkup grup. Menjadi terlihat memiliki efek mulitplikasi yang tak terbayangkan tetapi memulainya merupakan hal yang paling sulit. Tetapi jika kita tidak memulainya sekarang, siapa yang keberatan ? (Lho ???) Selain itu terdapat berbagai media jejaring sosial yang bisa menjadi kekuatan kita dalam memasarkan brand. Facebook dan LinkedIn adalah di antaranya. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, jika tertarik membaca selengkapnya bisa download pada bagian referensi. Facebook kemungkinan besar sudah banyak yang tahu atau bahkan memiliki akun di sana. Dan LinkedIn sebenarnya tidak jauh berbeda, hanya saja peruntukkannya lebih spesifik untuk membangun jaringan sesama profesional. Dan strategi terbaiknya adalah menggunakan keduanya. Setelah semua persiapan dilakukan, “what the h**l are you waiting for?”….

Referensi

Brand called you

The Duel-Facebook vs. LinkedIn

 

Kartoharjo, Madiun

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: