Gugus Syuhada

September 6, 2013

Hari kesebelas : Kuala Lumpur-Jakarta

Filed under: Traveling — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 8:45 am

Hari terakhir liburan ­čśŽ Pesawat kami berangkat pukul 11.45. Untunglah agak siang. Jadi kami bisa menyempatkan diri ke Batu Cave. Dimana terdapat patung Dewa Murugan tertinggi di dunia. Dewa ini adalah dewa pelindung orang Tamil, orang India yang banyak berada di Malaysia. Pagi-pagi sekitar pukul setengah enam kami sudah berjalan keluar hotel. Setelah beli tiket, kami menunggu setengah jam kereta ke arah stasiun Batu Cave. Ketika kereta tiba, tidak banyak orang yang naik atau turun dari kereta. Relatif kosong juga di dalam kereta, mungkin karena hari minggu dan masih pagi atau jurusan Batu Cave tidak banyak yang menggunakan. Setelah kereta berjalan setengah jam, tibalah kami di tempat tujuan.
Kami foto-foto baik di depan dewa Murugan, Hanuman dan area-area yang kami pandang cukup bagus sebagai objek foto. Karena sudah sampai di sini, rasanya tidak lengkap jika tidak naik 272 anak tangga ke kuil yang ada di dalam gua di tengah bukit karang tersebut.


Pada saat jam menunjukkan pukul 8 pagi kami sudah berada di dalam kereta lagi untuk kembali ke KL Sentral. Pada saat tiba kami bergegas ke hotel, check out dan kembali lagi ke stasiun. Karena sudah beli tiket ke LCCT, kami langsung menuju peron. Hampir saja kami tertinggal dan harus menunggu kereta berikutnya. Meskipun pintu kereta udah tertutup ada petugas yang baik hati menekan tombol pintu darurat sehingga pintu terbuka kembali untuk sementara agar kami bisa masuk. Fyuuh… Tiba di stasiun Salak Tinggi kami naik bus ke LCCT. Check in, ke imigrasi dan masuk ruang tunggu. Pesawat berangkat tepat waktu sehingga kami bisa sampai ke rumah untuk makan siang di rumah makan padang. Nikmatnya…

 

Serpong, Tangerang

 

August 31, 2013

Hari kesepuluh : Kuala Lumpur

Filed under: Traveling — Tags: , , — Gugus Syuhada @ 7:53 pm

Hari ini kami telat bangun entah karena sudah terlalu lelah atau sudah malas kangen pengen pulang. Yang jelas pukul sepuluh kami baru keluar hotel dan segera mencari tiket buat ke genting highland dari KL sentral. Sialnya kami dapat tiket untuk pukul dua belas siang. Sekitar 1,5 jam kami harus menunggu. Waktu menunggu kami manfaatkan untuk makan, jalan-jalan keliling stasiun dan kembali ke hotel untuk mengambil tablet yang bisa kami gunakan menghabiskan waktu selama di bus dalam perjalanan ke genting highland yang memakan waktu satu jam.
Tepat pukul dua belas kami berangkat ke Genting Highland. Kami mendapatkan kursi paling belakang, suara dan getaran mesin, guncangan ketika ada lubang atau polisi tidur, dan bantingan ketika berbelok atau menikung sangat terasa. Untung saja kami tertidur selama perjalanan, sehingga tablet yang kami bawa tidak berguna. Bahkan saat tiba di Genting Highland, kami belum bangun. Setelah setengah penumpang sudah turun kami baru tersadar dan buru-buru berdiri untuk turun dari bis. Tiket bis seharga 10,3 ringgit yang kami beli sudah termasuk tiket skyway cable car. Sehingga kami langsung antri untuk naik cable car. Pada saat naik cable car, pemandangannya sungguh bagus. Saat itu hujan, dan hutan ditutupi kabut. Seperti ini :

DSC_2486

Tiba di Genting Highland, kami jalan-jalan berkeliling untuk lihat-lihat. Saya berpikir dulu di Genting hanya ada kasino dan si Ay cuma tahu kalau Genting itu seperti dufan. Ternyata Genting selain dua fungsi itu, casino dan theme park baik indoor maupun outdoor terdapat juga hotel, arena, mall, restoran, dan taman nasional. Tetapi kami hanya sekedar jalan-jalan. Tidak bermain, tidak belanja tidak juga berjudi. Hanya makan di Eatry kemudian pulang menggunakan cable car dan bus. Pukul 17.30 kami sudah di hotel lagi.
Keluar hotel untuk foto di depan Petronas twin tower. Pukul 18.15 kami naik monorel dan turun di stasiun bukit nanas. Saya ingat, tahun 2005 pertama kali direkrut oleh Schlumberger ada training OFS-1 di KL. Menginap di hotel Renaissance, yang jaraknya tak terlalu jauh dari stasiun Bukit Nanas. Oh that good old time days.

20130906-073358.jpg

Selesai sesi foto-foto sekarang saatnya makan malam. Kami sebenarnya rencana ke Jalan Alor. Karena hujan, pada saat turun dari stasiun Bukit Bintang, kami langsung berjalan dan masuk ke low yat plaza untuk berteduh. Ternyata lapar tidak bisa ditunda, kami pun makan di dalam plaza. Nasi lemak dan teh tarik. Sedap. Lucunya saat pulang, kami bermaksud mencari stasiun Bukit Bintang, karena salah pintu keluar kami malah menemukan Jalan Alor. Memang banyak sekali penjual makanan di situ. Duh, sayang sekali. Perut kami sudah kenyang dan badan lelah pengen tidur. Gak pake lama, setiba di hotel, kami mandi dan mencampakkan diri di kasur dan tertidur hingga pagi.

Kuala Lumpur, Malaysia

August 30, 2013

Hari kesembilan : Kuala Lumpur

Filed under: Traveling — Tags: , , , , — Gugus Syuhada @ 6:14 pm

Saatnya pindah negara. Herannya, kami baru sadar kami selalu pindah negara menggunakan pesawat pagi. Huaam, ngantuk. Untung hotel yang kami tinggali di Hanoi cukup baik. Mereka menawarkan kalau kami sudah bisa sarapan mulai dari pukul 6.10 padahal normalnya sarapan baru siap pukul 6.30. Mereka juga telah memesankan taksi untuk mengantarkan kami ke bandara. Menu sarapannya enak juga, nasi goreng vietnam, pao, roti, sereal dan buah-buahan tropis. Pukul 6.30 kamipun berangkat ke Noi Bai Airport. Setiba di airport kami sempat salah konter karena tidak diturunkan di terminal buat airasia. Sehingga kami harus mencarinya sendiri. Untung saja bandaranya tidak terlalu besar dan penumpangnya tidak terlalu banyak. Dan yang paling menyenangkan pesawat berangkat tepat waktu. Sehingga 3,5 jam perjalanan bisa mulai dihitung mundur. Selamat tinggal Hanoi, selamat datang Kuala Lumpur.
Di KL, kami mendarat di LCCT atau Low Cost Carrier Terminal. Gerimis menyambut kedatangan kami pada saat turun dari pesawat dan berjalan menyusuri koridor menuju gate kedatangan internasional untuk antri di imigrasi. Tak lama kemudian kami memdapat cap, diizinkan tinggal selama 30 hari dan tidak bekerja. Selepas mengambil bagasi kami bertanya ke informasi, bagaimana cara menuju KL Sentral. Mereka menjelaskan kami bisa membeli tiket bus plus kereta yang berhenti di stasiun KL Sentral. Dengan berbekal petunjuk tersebut kami mendapatkan konter bus yang dimaksud. Setengah jam di dalam bus akhirnya berlalu hingga kami tiba di stasiun KL sentral. Stasiun utama ini sangat ramai, karena dari namanya saja sentral sehingga hampir semua jalur kereta melalui stasiun ini. Baik itu monorail atau KTM/Metro. Kami mengikuti papan penunjuk ke arah monorail atau Brickfields. Ternyata di luar hujan sangat deras dan kami belum tahu pasti lokasi hotel. Dari peta dan alamat di Agoda.com lokasi hotel sentral hanya seraatus meter dari stasiun monorail sentral. Jadi kami harus berjalan mengikuti papan petunjuk ke arah stasiun monorail. Untunglah ada koridor yang beratap sehingga kami tidak basah kehujanan. Tiba di stasiun monorel kami tanya pakcik security yang menunjukkan arah di mana letak hotel sentral. Benar saja lokasinya sangat-sangat dekat.
Sampai di hotel ternyata kamar kami belum disiapkan. Padahal sudah pukul 14.30 dan waktu check in adalah pukul 14.00, kami disuruh menunggu sekitar setengah jam. Setelah setengah jam, kami belum juga dipanggil. Sayapun mendatangi resepsionis, ternyata dia lupa kalau kamarnya sudah disiapkan. Tapi tempat tidurnya dua single bed, saya menolak dengan alasan kami pesan satu double bed. Kemudian meminta kami menunggu lagi sekitar 10 menit. Setelah lima belas menit, kami pun dihampiri dan dijelaskan kalau kami mendapat free upgrade kamar yang lebih besar karena kamar standard double bed sudah penuh. Hore, blessing in disguise. Buru-buru kami masuk kamar, mandi dan beristirahat.
Malamnya kami pergi ke kampung baru menggunakan monorail, jadi ingat Jakarta semoga Pak Jokowi dan Koh Ahok bisa segera mewujudkan hal yang sama. Kampung Baru menurut buku petunjuk merupakan daerah yang memiliki banyak tempat makan. Tetapi kami curiga karena di stasiun Medan Tuanku, stasiun terdekat ke kampung baru, tidak banyak yang turun. Dan benar saja dugaan kami, di area papan petunjuk arah kampung baru memang banyak tempat makan seperti pujasera, hanya saja lebih banyak yang tutup dibandingkan yang buka. Kami pun kembali ke arah stasiun dan memutuskan mencari makan di Bukit Bintang. Pada saat turun di stasiun Bukit Bintang, kami menemukan ada pintu menuju Sungei Wang Plaza. Dimana Si Ay bisa menemukan toko tas dan sepatu merek asli Malaysia, Vincci. Kami pun pusing-pusing mencari outlet Vincci di dalam plaza, karena tak kunjung menemukannya kami menyempatkan diri berbelanja oleh-oleh coklat, piring dan miniatur Twin Tower. Setelah beberapa kali naik turun eskalator dengan panduan peta akhirnya kami menemukan Vincci. Benar saja ramai sekali toko ini. Selain sedang ada diskon,mungkin ini merek favorit juga di sini. Si Ay membeli dompet untuk ganti dompet lamanya yang sudah rusak yang kebetulan bermerek sama, hadiah dari mamanya yang pernah ke KL. Selesai belanja kami pergi cari makan, sebenarnya ingin makan nasi lemak tapi kita belum tahu lokkai tempat makan nasi lemak yang enak. Saat kami lihat peta plaza ada tempat makan ayam penyet Ria, dan di situlah kami makan malam. Masakan asli Indonesia di Malaysia.
Pada saat pulang ke hotel, di jalanan depan hotel terdapat keramaian dan tiba-tiba setelah bunyi petasan yang cukup keras terdapat kembang api yang cukup besar dan lama. Dilanjutkan arak-arakan dan karnaval berbagai barongsai dan naga. Terus orang-orang bermake up seram yang mulutnya ditusuk-tusuk dengan berbagai benda tajam, ada tombak, pisau, peniti, jarum, anting-anting dan lain-lain. Arakan-arakan terus berlangsung dan kami masih tidak mengerti sebenarnya ada acara apa. Setengah jam berdiri menonton kami pun kembali ke hotel meninggalkan arak-arakan yang masih berlangsung. Karena penasaran, kami pun bertanya ke resepsionis ada perayaan apa. Dia menjawab itu adalah ghost festival. Dirayakan setiah hari ke-14 bulan ketujuh kalender china yang biasanya jatuh di bulan Agustus. Berikut beberapa fotonya.

Kuala Lumpur, Malaysia

August 29, 2013

Hari kedelapan : Halong Bay-Hanoi

Filed under: Traveling — Tags: , , , , — Gugus Syuhada @ 6:21 pm

Hari ini acara kering, tidak ada acara basah-basahan lagi. Kami hanya berkunjung ke goa dan belajar membuat lumpia vietnam. Kami berangkat ke goa pukul 8.30 setelah sarapan menggunakan kapal kecil. Sesampai di sana, masih saja kami terkagum-kagum. Selalu ada hal baru yang membuat kami geleng-geleng kepala. Langsung saja ke TKP :

So Sit Cave

Sekembali dari goa, kami belajar membuat lumpia yang sangat gampang tapi sangat enak rasanya.

Sekitar pukul 11.30 kapal bergerak menuju arah dermaga untuk menurunkan kami yang harus meninggalkan Halong Bay yang indah ini menggunakan bus. Perjalanan terasa sangat lama dan sedikit mengharukan (setidaknya buat kami) karena harus berpisah dengan tempat yang begitu menakjubkan ini. Pukul lima sore kami sudah berada di hotel lagi, hotel yang berbeda dari hotel yang kami inapi pertama tiba di Hanoi. Tidak disangka hotel Angel Palace yang kami pesan menggunakan agoda.com meskipun murah ternyata sangat bagus. Pelayanannya juga memuaskan. Yang unik adalah interior di dalam kamar, walpapernya bermotif kulit buaya.

Setelah bebersih sebentar, kami langsung keluar untuk menuntaskan misi foto kami di depan literature temple dan one pilar pagoda. Sayang seribu sayang, literature temple sudah tutup, area one pillar pagoda sangat gelap. Walhasil kami hanya dapat foto alakadarnya sekedar syarat bukti pernah di Hanoi, meskipun kami sudah menanamkan dalam pikiran kami, perjalanan utama ke vietnam adalah ke Halong bay dan Hanoi adalah semacam bonus. Tetapi kami menyempatkan diri untuk her foto di Ho chi minh mausoleum.
DSC_2463

 

Hanoi, Vietnam

Hari keenam : Halong Bay

Filed under: Traveling — Tags: , , — Gugus Syuhada @ 6:14 pm

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Hari ini kami akan berangkat ke Halong Bay. Pagi hari kami makan di hotel sekenyang-kenyangnya karena gratis. Berangkat pukul delapan naik bus tigaperempat. Peserta tur yang bareng kami adalah satu keluarga beranggotakan ayah, ibu, dan tiga anak perempuan (ditambah dua lagi pak harusnya biar bisa main Conjuring, jeng jeng). Perjalanan ke Halong memakan waktu 3,5 jam termasuk istirahat 25 menit. Tiba di dermaga halong bay, kita langsung dijemput kapal kecil yang akan membawa kita ke cruise.

Sampai di cruise kita istirahat sebentar terus langsung makan siang. Dibuka dengan salad ala vietnam, kerang rebus, dan sate. Makanan utamanya nasi, ca cumi kalamari, capcay ayam dan ikan bass bumbu kuning dan ditutup dengan puding karamel. Minumannya cukup coca cola seharga 1dollar, karena minum di luar paket tur. Untung kami diberi info oleh teman kalau di Halong minuman tidak termasuk paket sehingga kami sudah antisipasi dengan membawa tiga botol besar air dari Hanoi plus dua botol lagi saat berhenti istirahat dalam perjalanan ke halong bay. Pukul 15.00 sesuai jadwal, kami tiba di salah satu pulau yang memiliki pantai pasir putih. Di situ rencananya kami akan bermain kayak keliling pulau dan berenang hingga pukul 17.00. Ngomong WOW sambil tiger sprong pun gak cukup menggambarkan betapa indahnya pemandangan yang kami lihat dan alami. Langsung saja ke TKP :

Sekembalinya di cruise kami mandi dan bersih-bersih badan. Dilanjutkan leyeh-leyh sambil ngupi-ngupi di sundeck. Melihat sunset dan gugusan pulau-pulau karang. Sungguh menakjubkan. Lanjutkan di TKP.

Sunset at Halong Bay

Sunset at Halong Bay

Makan malam disajikan pukul 19.00. Kejutan apalagi yang kira-kira kami dapatkan : Seafood. Udang segar tangkapan hari ini yang disteam langsung di depan kami. Ruangan langsung penuh asap saat koki memproses udang steam. Udang langsung disajikan selepas salad. Kepiting rebus segar dari nelayan di Halong Bay disajikan setelah udang steam.

20130906-061815.jpg

Halong Bay Crab

Makanan utama berupa nasi, labu bawang putih, orak arik, kari sapi yang lezatnya ga ketulungan dan minuman standar coca cola. Makan malam ditutup dengan buah naga dan pepaya. Sungguh nikmat. Acara malam hari adalah memancing cumi. Tidak terlalu menarik tapi boleh juga buat mengisi waktu sembari menunggu nasi turun sebelum tidur. *foto* Rasanya tidak sabar buat besok. Main kayak dan berenang di pantai pribadi, dari pagi hingga sore hari. Diselinggi makan siang di kapal kecil. Yuhuuu…. Halong Bay, Vietnam

Hari ketujuh : Halong Bay

Filed under: Traveling — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 5:53 pm

Hari kedua di Halong Bay. Acara hari ini tidak jauh berbeda dengan hari pertama. Hanya saja lebih lama. Yaitu main kayak dan berenang sampai sore dan makan siang di kapal kecil. Diawali dengan sarapan campuran antara english breakfast dan vietnam breakfast. Roti tawar dan toppingnya, teh atau kopi, jus jeruk atau pisang, mie goreng, dan buah-buah tropis. Setelah kenyang, pukul delapan kami ditransfer ke kapal kecil dan melaju ke arah lautan lepas untuk berenang dan main kayak. Perjalanan memakan waktu satu jam dan kami manfaatkan untuk hal yang berguna, tiduran.
Tiba di area bermain, kapal menurunkan sauh untuk berlabuh dan kami masuk ke kayak dan mulai bermain kayak melewati gugusan karang-karang indah ini. Tidak henti-hentinya kami berdecak kagum melihat keindahannya. Kami terus mendayung secara konvoy mengikuti si pemandu yang membawa kami menuju sebuah pulau karang yang memiliki pasir putih. Di situ kami parkir kayak dan mulai berenang. Si Ay mengunakan baju pelampung supaya bisa ikut bermain.

Setelah puas berenang kira-kira dua jam, kami kembali ke kapal kecil menggunakan kayak untuk beristirahat makan siang dan berenang di sekitar kapal yang sengaja parkir di sekitar karang-karang yang memiliki pasir putih/pantai. Makan siang yang disajikan udang, lumpia vietnam goreng, capcay, cumi bakar, ikan bass, dan sate babi. Lumayan enak meski tak seenak makanan yang disajikan di cruise.

Tak lama setelah makan, acaranya adalah berenang bebas. Anak-anak perempuan Belanda berlompatan terjun dari kapal langsung ke air. Setelah beberapa lompatan ada seorang anak yang tersengat ubur-ubur di kakinya. Dia langsung naik ke kapal dan dikompres menggunakan es. Kami melihat di sekitar kapal ada setidaknya enam ubur-ubur yang cukup untuk membuat kami mengurungkan niat untuk berenang dan hanya melompat ke air untuk keperluan foto :). Dalam perjalanan pulang kita mampir ke budidaya mutiara. Di situ terdapat museum mutiara, peternakan kerang mutiara, proses pembuatan dan akhirnya toko mutiara. Harganya mahal-mahal.

Halong Bay, Vietnam

August 26, 2013

Hari kelima : Hanoi

Filed under: Traveling — Tags: , , — Gugus Syuhada @ 7:35 pm

Bangun pagi-pagi untuk mengejar pesawat pagi ke Hanoi. Pukul 4.45 kami sudah di dalam taksi menuju bandara Don Muang Bangkok. Bandara khusus low cost carrier seperti airasia dan kawan-kawan. Situasi di bandara sepagi ini, sudah ramai sekali. Untung kami sudah web check in, sehingga tinggal antri untuk cetak boarding pass dan menaruh bagasi. Selepas itu kami, menukar uang Baht kami yang masih sisa menjadi Vietnam Dong. Meskipun kurs tukar di bangkok ini parah banget, kami tetap menukarkanmya karena kami butuh Dong dan tidak butuh lagi Baht. Rasanya cukup aman membawa Dong, meskipun kami dapat info kalau dollar amerika pun bisa digunakan untuk transaksi di Hanoi. Selesai itu kami bergegas ke arah konter imigrasi. Awalnya kami antri di konter yang bertuliskan ASEAN lane, karena tidak banyak antriannya. Etapi pas sudah sampai, ditolak dan dikasih tahu kalau konter tersebut khusus pemegang paspor Thai. Yakwis, kami pindah antrian ke salah satu konter yang bertuliskan ‘foreign passport’. Selesai urusan imigrasi, kami segera ke ruang tunggu, dimana para penumpang pun sudah mulai memasuki pesawat. Inilah enaknya pesawat pagi, jarang delay. Good morning Vietnam. Akhirnya kami tiba di negaranya paman Ho Chi Minh. Kesan pertama yang timbul begitu berbeda dengan Bangkok saat kami tiba di bandara Noi Bai. Di sini meskipun banyak juga turis bule, tapi tidak seramai bandara di Bangkok. Setelah mendapatkan cap ijin boleh masuk Vietnam selama 30 hari di paspor, kami segera mengambil bagasi yang tidak terlalu jauh dari konter imigrasi. Sebelum menuju ke tempat antrian taksi, kami menukarkan 100 dollar ke Dong. Kursnya lebih baik dibandingkan Bangkok. Untung saja, kami tidak menukarkan 100 dollar kami di Bangkok. Mengikuti petunjuk dari agen perjalanan tur Halong Bay biaya taksi dari bandara ke hanoi sekitar 17 dollar, tidak termasuk tips yang berkisar 1-2 dollar. Kami segera mencari rekomendasi dari buku nama taksi yang terpercaya, mirip rekomendasi perusahaan/keluarga ke orang yang baru pertama kali ke Jakarta agar naik blue bird saja untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Perjalanan dari bandara ke Old Quarter, tempat dimana hotel kami berada menempuh jarak 32 km. Untung saja, padahal di dalam taksi yang kami tumpangi, ada stiker di setiap pintu kalau di bawah 33 km dari bandara ke hanoi tarifnya adalah 350000 dong. Di atas 33 km, biayanya sesuai meter ditambah jarak sisa yang bertarif 10000 dong/km. Sesampai di hotel, karena kepagian, kami belum diperbolehkan untuk check in. Untuk itu kami hanya konfirmasi kamar dan paket tour Halong Bay, kemudian meletakkan koper dan pergi keliling di daerah sekitar hotel. Lucu juga. Orang-orang sini banyak sekali yang menggunakan sepeda motor, bahkan honda bebek yang umum kami lihat pada saat SD, masih sangat umum digunakan baik oleh orang tua maupun anak-anak muda. Helm yang lazim digunakan pun, hanya seperti topi orang berkuda atau yang digunakan atlet polo. Beberapa model helm dimodifikasi sehingga terdapat lubang berbentuk U di bagian belajang untuk wanita berambut panjang yang dikuncir. Berada di jalanan Hanoi membutuhkan kewaspadaan yang tinggi karena seperti halnya di negara kita, sepeda motor bisa seenaknya memilih jalur. Melawan arus, naik ke trotoar, menekan klakson sesering mungkin meskipun ada orang yang menyebrang di zebra cross dan lain sebagainya. Harus ekstra hati-hati. Selesai dari sarapan pho di warung dekat hotel seharga 25 ribu dong per mangkok, kami berjalan-jalan melihat toko-toko yang menjual kaos-kaos dan barang-barang khas Vietnam. Saya ingin mencari kaos merah dengan bintang kuning di tengah sesuai dengan bendera vietnam. Tidak sampai satu jam kami pun berjalan kembali menuju hotel, untuk beristirahat karena kurang tidur di Bangkok dan masih lelah setelah terbang. Tidak lama setelah masuk kamar kami berdua langsung tertidur hingga sore hari dan terbangun karena kelaparan.

Kangen makanan yang familiar di lidah, steak dan lasagna pun menjadi pilihan, bukan kebarat-baratan tapi di sini tidak ada yang jualan sate, nasi padang atau nasi pecel. Posisi hotel yang memang daerah turis, memudahkan kami untuk menjangkau daerah-daerah yang wajib dikunjungi. Tetapi hujan turun dengan deras di Danau Hua Kiem, Katedral, dan Ho Chi Minh mausolleum yang membuat kami batal ke one pillar pagoda, Hoa Lo prison dan literature temple meskipun lokasinya tidak jauh dari Ho Chi Minh Mausolleum. Untung saja kami sudah membeli tiket water puppet untuk show jam 20.00. Sehingga kami bisa kembali ke theater dan menunggu di sana sambil nongkrong makan lumpia segar khas vietnam. Nongkrong di sini, berarti duduk di dingklik atau jejodok. Entah kenapa orang sini, tempat-tempat jajannya tidak menyediakan tempat duduk normal atau lesehan saja sekalian. Gambar di bawah adalah salah satu contoh tempat nongkrong yang dimaksud. 20130826-233503.jpg Pukul 19.30 kami berjalan menuju ke Teater Thanglong untuk bersiap-siap menonton pertunjukan wajib tonton jika ke Hanoi. Show dimulai pukul 20.00 kami mendapat tempat duduk di tengah. Meskipun agak susah mengambil gambar atau video, tapi kami bisa menikmati pertunjukan selama kurang lebih 50 menit tersebut. Lucu dan sangat kreatif. Pertunjukan ini menceritakan mulai dari legenda asal-usul orang vietnam, tradisi-tradisi yang dilakukan, barang-barang ikonik vietnam, kesenian tradisional dan beberapa suku yang membentuk bangsa Vietnam. Di bawah ini, salah satu foto scene pertunjukan yang sangat membekas di ingatan. Tari Champa yang dipengaruhi tari India. 20130826-234503.jpg Hanoi, Vietnam

August 25, 2013

Hari keempat : Bangkok

Filed under: Traveling — Tags: , , , , — Gugus Syuhada @ 7:43 pm

Hari terakhir di Bangkok. Pagi hari kami mulai dengan sarapan yang agak berat karena kami berangkat ketika matahari sudah lumayan tinggi, sekitar pukul sepuluh. Rute hari ini adalah museum house Jim Thompson, MBK center, Siam Discovery, Madame Tussauds, dan menonton pertandingan Muay Thai atau kick boxing. Setelah selesai sarapan, dengan menghunakan ‘Bi Ti Et’ atau BTS kami tiba di stasiun National Stadium. Rumah museum Jim Thompson itu hanya sepelempar batu saja dari stasiun tersebut. Harga tiket untuk tur masuk sebesar 100 baht. Tersedia tur dengan pemandu berbahasa inggris, perancis, arab, china, jepang, dan saya lupa apa lagi. Jika hanya foto-foto di taman dan di luar ruangan serta ke ruangan pameran/toko sutera Thailand tidak dikenakan biaya.
Secara singkat, Tim Thompson ini orang amerika yang pindah ke Thailand untuk mengenalkan sutera Thailand ke dunia dan mendirikan perusahaan sutera Thailand yang pertama. Dia adalah seorang arsitek, dan museum rumah yang kami kunjungi adalah bekas rumahnya. Dia mendesain sendiri rumah tersebut karena terinspirasi dari rumah tradisional Thailand. Di dalam rumahnya tersebut banyak koleksi-koleksi yang dia kumpulkan seperti lukisan dari abad 18, patung budha dari abad 7, porselen antik china baik untuk alat makan seperti piring, cangkir, teko, dan tempat duduk. Salah satu yang bikin penasaran adalah Jim Thompson ini menghilang pada saat berada di pedalaman hutan Malaysia. Dan sampai sekarang tetap menjadi misteri apa penyebab dia menghilang. Beberapa teori menyebutkan dia dimakan binatang buas, dia diculik, atau dia terjatuh di jurang. Tapi masing-masing teori tidak mempunyai bukti yang kuat sehingga tidak satupun yang bisa menjelaskan proses menghilangnya dia.

Dari rumah museum, kami berjalan ke MBK center, yang mirip-mirip ITC di Jakarta. Setelah berkeliling sebentar kami menyeberang ke mall Siam Discovery menggunakan jembatan penyebrangan yang terintegrasi dengan stasiun BTS. Di mall ini terdapat museum lilin terkenal, apalagi kalau bukan Maddame Tussaud-Bangkok. Kami sempat shock karena harga tiket masuk ke Maddame Tussaud cukup mahal yaitu 800 baht per orang. Demi memuaskan rasa ingin tahu, akhirnya kami nekat membelinya. Di dalamnya kami foto-foto bersama para patung lilin orang-orang terkenal. Tujuan utama pada umumnya turis ke maddame tussaud.
Agar semakin lengkap liburan di bangkok, kami mencari info bagaimana dan dimana bisa menonton Muay Thai. Info yang kami dalat Ada dua stadion yang biasa menyelenggarakan pertandingan Muay Thai secara bergantian, Lumpini stadium dan Rajadamnern stadium. Sehingga setiap hari selalu ada pertandingan. Kemarin malam kami sebenarnya melewati Lumpini stadium dan sedang dilangsungkan pertandingan, tetapi kami tidak masuk. Sehingga untuk hari ini, pertandingan dilangsungkan di Rajadamnern stadium yang dimulai pukul setengah tujuh sore. Kami juga mendapatkan info kalau harga tiket berkisar 300-500 baht. Tetapi setelah tiba di stadion, banyak terdapat orang-orang berjaket warna-warna cerah bertuliskan Muay Thai atau kick boxing. Orang-tersebut juga membawa segepok tiket dan brosur seperti ini :

Mereka mencegat sebelum kita sempat mendekati loket tiket resmi yang sepi, dan menerangkan kalau ada tiga kelas tiket yaitu pertama duduk di kursi di pinggir ring seharga 2000 baht, berdiri di tengah berjarak 10 meter dari ring seharga 1500 meter, dan berdiri sejauh 20 meter dari ring seharga 1000 baht. Tidak cukup rasanya buat mereka kalau kami baru saja dibikin shock oleh harga tiket Maddame Tussaud. Kami pun menenangkan diri dengan duduk-duduk di undak-undakan sambil berpikir. Akhirnya kami pun memutuskan menonton dengan duduk yang berarti 2000 baht perorang. karena sudah tidak memiliki uang cash, kami pun menuju loket untuk transaksi menggunakan kartu kredit. Dan ternyata di situ tertera dengan jelas, layout posisi masing-masing kelas tiket, kalau semuanya duduk. Hanya saja kelas 1500 dan 1000 duduk di undak-undakan bukan di kursi dan jarak ke ring lebih jauh. Fyuh ada gunanya juga menenangkan diri tadi. Jadi tiket 1000 baht pun bisa duduk dan tidak parah-parah amat pandangan pertunjukannya. Jika memiliki kesempatan menonton lagi, kelas tiket 1500-lah posisi menonton yang ideal. Dan ramah kamera atau mudah memotret. Hanya saja jangan merekam dengan kamera video, karena dilarang. Mungkin sebab pertandingan disiarkan secara langsung melalui televisi yang berarti sudah ada pemilik hak siarnya.


Sesuai yang ada di brosur ada 9 pertandingan, masing-masing lima ronde, per ronde 3 menit, dan istirahat 2 menit. Jadi per pertandingan memakan waktu setengah jam termasuk ritual sebelum bertanding yang seperti berdoa dan sedikit gerakan menari. Pertandingan yang ditunggu-tunggu adalah pertandingan ke tujuh. Selain kelasnya paling berat, petarungnya berasal dari Jerman dan Perancis, sehingga turis-turis dari negara bersangkutan akan heboh mendukung negaranya. Dari sembilan pertandingan, kami hanya menonton tujuh sebab kami besok harus bangun pagi dan terbang ke Hanoi. Beberapa foto yang kami dapatkan selama pertandingan :

Bangkok, Thailand

August 24, 2013

Hari ketiga :Bangkok

Filed under: Traveling — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 6:41 pm

Dua hari telah berlalu. Setelah mendarat di hari pertama dan hari kedua jalan-jalan ke area wajib turis, hari ketiga di Bangkok tidak lengkap kalau tidak belanja. Dan tempat yang pas buat kantong kami adalah weekend market Chatuchak. Jadi hari ketiga di Bangkok bertema belanja murah di pasar. Diawali dengan bangun tidur ku terus mandi pukul setengah enam, dilanjutkan sarapan ringan seperti biasa : roti, yoghurt, dan susu fermentasi yang dibeli di Seven Eleven dekat hotel. Kita berangkat pukul tujuh dengan rencana rute floating market Thalingcham, pasar Chatuchak, dan pasar malam Phatpong. Karena tidak tahu, ke sana menggunakan apa dan harus berhenti di mana kami bertanya ke resepsionis hotel. Dan oleh mbak resepsionis yang ramah tersebut kami mendapatkan info, cara termudah adalah menggunakan taksi atau bus nomor 515. Dia pun menuliskan nama pasar Thalingcam dalam bahasa Thai, sehingga memudahkan kami pada saat bertanya ke sopir taksi atau bus.
Setelah mempertimbangkan kalau lebih mudah menggunakan taksi, kami pun memberhentikan sebuah taksi di depan hotel dan menyodorkan tulisan dalam bahasa Thai yang dibuat oleh mbak resepsionis tadi. Sopirnya pun dengan sigap menjawab ok dan menyalakan argo/meter. Kami memilih taksi yang berwarna pink, karena selama di Bangkok dua hari sebelumnya kami memperhatikan taksi yang paling banyak adalah taksi pink ini dan lampu di atas taksi bertuliskan “taxi meter”. Sepanjang perjalanan sopir taksi yang teryata cukup ramah berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan kami dengan bahasa Inggris aksen Bangkok. Seperti ‘s’ yang dilafalkan ‘t’, ‘r’ menjadi ‘l’ atau bahkan tidak dibaca. Misalnya BTS pak sopir membacanya “bi ti et”, “metro” menjadi “meto”, nama ratu mereka yang tertulis “Sirikit” dibaca “Silikit”, bahkan nama pak sopir sendiri dikenalkan ke kami sebagai “Lungchanacai” padahal kartu nama yang ditunjukkan kepada kami tertulis “Mr. Rungchananchai”. Dan ada yang lucu, saat saya bertanya adakah gajah putih di Bangkok? Dia menjawab tidak ada tapi kalau mau lihat bisa diantarkan ke tempat untuk melihatnya karena itu searah dengan tujuan kita. Seperti itulah kira-kira jawaban yang saya tangkap, cukup membingungkan : tidak ada tapi bisa ditunjukkan. Kemudian saat tiba barulah kami sadar, Mister Lungchanacai atau tepatnya Mister Rungchanacai membawa kami ke pertigaan di dekat Grand Palace. Di situ memang terdapat patung gajah berwarna putih-ke pink-pinkan (saya pun bingung menuliskannya bagaimana). Dan dengan tertawa kecil, mister Lung berkata, “that’s the white elephants, but not live hehehe…” Inilah gajah yang dimaksud :

20130824-224244.jpg
Sekitar pukul setengah sembilan kami pun tiba di pasar Thalingcam. Pasarnya tidak besar, area depan adalah area penjual tanaman dan jajanan pasar. Kami membeli jajanan yang berbentuk mirip apem dengan harga 25 baht isi lima. Cukup enak, ada rasa pisang, kelapa dan manis gula. Kami berjalan terus memasuki pasar yang ternyata tersambung langsung dengan sungai. Terdapat beberapa penjual seafood di atas perahu atau di platform yang mengapung termasuk meja makan untuk lesehannya.

20130824-225004.jpg

20130824-225037.jpg

Makanannya segar-segar. Kami membeli ikan bakar untuk sarapan kedua berikut nasi putih, lalapan, sambel mangga dan teh tawar. Ikannya enak sekali dan sangat gurih. Satu ikan untuk dua orang, dihargai 170 baht. Terdapat berbagai menu lain seperti cumi yang sangat besar, udang jumbo lima ekor/porsi, kepiting, yang rata- rata dijual 170 baht juga. Tidak banyak turis di tempat ini, entah karena mereka pergi ke pasar terapung Damnoen Saduak, di provinsi Ratchaburi yang jaraknya 110 km dari kota Bangkok, atau memang masih terlalu pagi untuk makan berat. Yang jelas rata-rata yang makan pada saat itu adalah orang-orang lokal. Ada yang satu keluarga, pasangan ataupun jomblo. Setelah kenyang makan, rute selanjutnya adalah weekend market Chatucak yang lokasinya bisa dijangkau menggunakan BTS atau bus dari daerah Victory Monument.
Karena yang kami tahu BTS, kami pun berencana menggunakan bus 515 yang menuju stasiun di dekat Victory Monument. Stasiun BTS ini berjarak 5 stasiun dari stasiun Chatucak. Tapi bus 515 tidak lewat di depan pasar Thalingcam. Hanya ada tuk-tuk seukuran angkot dan muat sekitar 8-10 orang penumpang. Tarifnya jauh-dekat 7 baht yang tertera di dinding tuk-tuk. Setelah mendapat bantuan penjelasan dari penumpang yang bisa berbahasa inggris kami turun di satu perempatan untuk ganti tuk-tuk yang menuju jalan besar. Jalan dimana bus 515 lewat. Sesampai di halte bus kami menyetop tuk-tuk dengan menekan bel. Kami menunggu bus tak terlalu lama. Bus ini lebih nyaman dibanding bus 82 yang kami naiki kemarin, ada AC dan tempat duduk yang empuk. 15 baht perorang harus kami bayar. Tarif ini dihitung berdasarkan jarak dari naik ke tujuan akhir. Kami tahu hal ini karena ada orang mungkin dari Jepang atau Korea yang ngomong dengan kencang ke kondektur kalau mau turun di Victory Monument dan hanya dikenai tarif 10 baht. Dia naik dari halte yang agak jauh setelah halte tempat kami naik.
Tiba di stasiun BTS Victory monument kami langsung antri beli tiket kereta. Antriannya sangat panjang. Jika kita punya uang koin sebenarnya bisa langsung beli dari mesin. Cara perhitungan tarifnya memang lebih rumit dibanding beli langsung di loket yang tinggal menyebutkan tujuan dan bayar tarif yang diminta. Tapi setelah mempelajari dari papan petunjuk kami pun mengerti. Sebenarnya kami tinggal menghitung berapa stasiun yang akan kami lalui termasuk stasiun keberangkatan dan masukkan koin untuk membayar tarif yang bersesuaian. Mesin akan mengeluarkan kartu tiket/token dan kembalian jika uangnya berlebih. Jangan kuatir jika salah hitung stasiun sehingga memilih jumlah tarif yang salah di mesin. Misalnya jika kita berhenti setelah 5 stasiun padahal tarif yang kita pilih hanya untuk 4 stasiun maka di stasiun tempat kita berhenti, kartu atau token kita akan ditolak mesin pembuka pintu dan kita tidak bisa keluar. Kita tinggal ke petugas loket atau penjaga pintu dan dia akan membantu menukarkan kartu ke loket dan kita tinggal membayar selisih harganya.
Tiba di Chatucak, kami berjalan mencari barang-barang yang dibutuhkan yaitu baju, oleh-oleh, magnet kulkas dan miniatur ikon kota/negara. Karena kami punya rencana mengumpulkan semua magnet kulkas dan miniatur ikon kota/negara yang kami kunjungi. Sayangnya kami tidak menemukan miniatur Grand Palace, jadi miniatur gajah putihlah yang kami beli. Saran untuk yang mau ke Chatucak, mempelajari peta tataletak pasar akan memudahkan mencari tempat yang ingin didatangi baik saat pertama datang atau kembali lagi ke tempat tersebut. Karena pasarnya sangat besar dan jualannya hampir sama.
Di pasar itu, berbagai bahasa, aroma, jenis barang, dan orang dipersatukan. Tawar menawar harga biasanya menggunakan kakulator. Tidak ada panduan yang jelas untuk harga jual sebenarnya. Tetapi seringkali kami membandingkan dengan harga di Indonesia dan menemukan sebenarnya lebih mahal tapi susah mencarinya, atau jika kami suka barangnya dan malas lagi memutar untuk mencari dan tawar-menawar karena sudah capek tetap saja membeli. Yang jelas menawar itu wajib, 50 persen dari harga awal untuk membuka dan berhenti di harga maksimal yang mau kita bayar. Sekedar info kami bertemu tiga orang bapak-bapak yang sedang kulakan buat jualan di satu kota di Sulawesi, dan Mangga Dua. Mereka belanjanya mungkin ratusan kilo karena pengirimannya menggunakan kapal atau pesawat dan hanya sedikit yang dibawa sendiri menggunakan pesawat yang mereka tumpangi. Selain Chatucak ini, mereka kulakan dari China juga. Minimal sebulan sekali ke Chatucak terutama bapak yang dari mangga dua. Hebat! Jadi kalau kangen belanja barang-barang Thailand ke Mangga Dua pun cukup mewakili, atau mungkin juga ITC-ITC di seluruh Jakarta.
Selesai belanja saatnya makan siang tom yam yang terkenal enak di Bangkok. Karena sudah sampai Bangkok, kami ingin mencoba makanan khas terbaik. Hasil googling kami menghasilkan bermacam-macam tempat. Ada yang menyarankan di beberapa hotel bintang lima, ada yang bilang semua warung jalanan yang jualan tom yam pasti enak, dan ada beberapa nama restoran yang disebutkan. Ya memang relatif ya soal rasa. Akhirnya kami memilih restoran Somboon seafood</a. Alamatnya di dekat dengan stasiun metro Huay Kwang. Ketika keluar dari stasiun kami putar-putar mencari, tanya tukang ojek, kakek-kakek di halte yang sedang menunggu bus, kasir Seven Eleven, hingga pak polisi, akhirnya ketemu juga restoran ini. Ternyata letaknya saat keluar dari stasiun menggunakan exit nomor 3 (Emerald Hotel), tepat sebelah kanannya. Di deretan ruko-ruko yang banyak tempat pijat, di sebelah sebuah bank. Bukanya mulai pukul empat sore. Benar banget makanannya superb. Makanan khas restoran ini sejak 1969 tertulis besar-besar di depan restoran adalah fried curry crab. Rasanya yummy sekali terutama sausnya. Makannya tingal nelan tanpa dikunyah. Slurrp… Sangat kaya rasa dan lembut. Pesanan kami adalah kbjtom yam goong, fried curry crab dan cha kangkung, semua ukuran kecil karena cuma berdua. Total kerusakan 826 baht. Miriplah seperti makan di Rumah Makan Ujungpandang BSD.

20130825-081748.jpg
Masih bertemakan belanja, rencana terakhir adalah mengunjungi night market. Informasi dari pelayan di restoran Somboon, kami harus turun di stasiun MRT/Metro Lumpini atau Si Lom. Kalau lihat di peta, Si Lom itu setelah Lumpini. Jadi di pikiran kami, jika kami turun di Lumpini dan berjalan ke arah Si Lom tentu kami bisa melihat-lihat pasar sepanjang perjalanan. Yah, kenyataan seringkali tidak sesuai rencana. Kami kesasar. Kami harus berjalan sangat jauh ke arah Si Lom, dengan suasana sepi di di pinggir jalan besar. Di sebelah kanan, taman Lumpini yang gelap dan di sebelah kiri, gedung-gedung perkantoran yang sudah tutup dan beberapa diantaranya memajang foto Queen Sirikit. Kami ingat bapak sopir taksi pagi tadi, Mister Lung, yang menjelaskan tanggal 23 Agustus adalah hari ulang tahun ratu yang ke 81. Makanya sepanjang jalan banyak foto ratu dipasang. Kadang satu foto sendiri saja, kadang ada dua foto, satu foto sendirian, satu foto lagi berdua dengan raja.

Ketika tiba di Si lom, kita baru ngeh kalau night market itu seperti jalanan yang kiri kanannya banyak pedagang kaki lima. Apanya yang spesial, kami pikir. Ternyata, selain pedagang makanan, baju, aksesoris, dvd (porno kebanyakan, untuk pria/wanita straight atau homoseksual), ada juga penjual sex toys, obat-obat kuat seperti viagra dan cialis. Toko-toko sepanjang jalannya selain hotel terdapat tempat pijat, salon, bar, dan karaoke. Ya sudahlah, pulang saja kalau begini. Kami pun berjalan ke arah stasiun. Naik kereta menuju hotel dengan kepala penuh jutaan fantasi.

Bangkok, Thailand

Hari kedua : Bangkok

Filed under: Traveling — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 6:35 am

Di hari kedua ini, kami berencana untuk melakukan perjalanan menyusuri Sungai yang membelah jantung kota Bangkok, Chao Praya. Dengan menggunakan kereta, kami menuju stasiun BTS-skytrain. Ada dua tipe metro di Bangkok, BTS yaitu kereta yang berada di atas jalan dan MRT subway di bawah tanah. Meskipun keduanya menggunakan teknologi yang sama, tapi tidak ada rel yang berhubungan. Kami membeli tiket MRT buat tiga hari langsung (3 Days Pass) seharga 230 Baht per tiket. Ya sekitar 90ribu rupiah. Mengagumkan memang Bangkok, saya dulu berpikir kalau hanya Singapura saja yang memiliki sistem transportasi umum yang bagus di Asia Tenggara, ternyata Bangkok jg tidak kalah bagus. Stasiun-stasiun Metronya bersih-bersih, kereta-keretanya tepat waktu, dan para penumpangnya relatif tertib. Meskipun sayang ada beberapa koneksi antar MRT dan BTS yang mengharuskan kami keluar stasiun dan berjalan melewati trotoar di pinggir jalan yang berlubang-lubang dan tidak jarang dipenuhi pedagang kaki lima yang herannya banyak banget yang jualan sate babi yang berbentuk “menyeramkan” dan berbau memabukkan, sate cumi, bakso tusuk, phad Thai, DVD porno dan lain-lain. Setelah tiba di stasiun BTS tujuan, kamipun segera mencari konter tiket yang menjual water bus yang akan membawa kami menuju phier/dermaga terdekat ke Wat Po, kuil tempat patung Budha berbaring/reclining Budha, Grand Palace dan Wat Arun (yang sayang kami hanya berfoto dari jauh). Seperti apa bentuk-bentuk biarlah foto saja yang berbicara :

Pada saat di Grand Palace kami ditawari untuk membeli tiketbsendratari Thai Mask Dance Hanuman seharga 800 baht, cukup mahal tapi penjualnya bilang bahwa drama ini sangat bagus, bahkan lebih bagus dari yang ada di Bali (Tari kecak kah maksudnya) hmmmm, kita buktikan saja nanti. Berdasarkan buku panduan yang kami punya, Jembatan Rama 8 juga cukup bagus dilihat,kamipun tertarik menuju ke sana menggunakan Taxi Tuk-Tuk. Setelah tawar menawar kamipun sepakat di harga 80 Baht untuk perjalanan sekitar 10 Menit. Dan ternyata jeng jeng Royal Bridge Rama 8 itu ternyata jembatan yang mirip seperti jembatan Pasopati di Bandung atau Suramadu yang melintas di atas Chao Praya.

20130904-123313.jpg

Royal Bridge Rama 8

Bagusnya jembatan ini punya akses buat pejalan kaki di kiri dan kanan ruas jalan, jadi buat orang-orang narsis seperti kami dengan mudah tersalurkan nafsunya dengan tidak berhenti di jalan dan mengganggu pengguna kendaraan bermotor ┬áyang melintas. Kami ke sana karena selain mengikuti panduan juga, ingin menghabiskan waktu sembari menunggu Thai Mask Dance di Royal Theatre pukul 19.30. Saat waktu menunjukkan pukul 17.00 kami pergi ke arah Grand Palace menggunakan Tuk Tuk karena kondisi hujan dan kami cukup lelah. Di tengah jalan kami lapar dan berhenti di area para backpacker sering menginap dan memesan wontoon noodle yang lumayan untuk menghangatkan perut sembari menunggu hujan reda. Setelah kenyang dan hujan tinggal rintik-rintik kami pun berjalan ke arah Grand Palace, sayang tak lama kemudian hujan lebat turun lagi dan kamipun berteduh di halte bus. Untung kami punya nama dan alamat Royal Theatre yang ditulis dengan huruf Thai. Saya iseng siapa tahu bisa pakai bus. Eh beruntung ada satu bus bernomor 82 yang tidak jelek-jelek amat meskipun sudah tua dan setengah jendelanya tidak ada, melewati jalur ke arah sana dan “no money” kata bapak berpakaian seperti petugas DAMRI/dishub di Indonesia, atasan biru muda, bawahan biru tua yang saya tanyai. Kamipun berlari menuju bus itu. Waktu masuk saya menunjukkan alamat ke pak sopir, dia bilang tanya tuh bapak yang duduk dekat pintu dia bisa membantu. Dan si bapak bilang aman tuh, nanti saya tunjukkin dimana turunnya. *kira-kira begitu terjemahan bebas antara bahasa inggris medok Jawa vs bahasa Thai fasih logat bangkok. Setelah lima menit ngetem, bus mulai bergerak dan kami bisa┬ámenikmati macetnya kota bangkok, hitung-hitung seperti open bus tour gratis. Asik.┬áDan benar kami pun keliling-keliling bermacet-macet di Bangkok selama sekitar setengah jam sebelum akhir si bapak di belakang menunjukkan di mana kami harus berhenti. Ternyata kami harus berhenti halte bus terdekat dan tidak bisa berhenti seenaknya. Di papan penunjuk jalan jarak Royal Theatre sekitar 200 meter dari halte, tidak jauh. Karena masih ada waktu satu jam, kami makan dulu di McD. Hahaha iya, karena di sekitaran situ tidak ada penjual makanan. Selesai makan kami berjalan ke Royal Theatre, foto-foto di depan patung Hanuman di depan gerbang Theatre dan menunggu sekitar 15 menit sebelum akhirnya pintu Theater 3 telah dibuka, para penonton yang telah memiliki karcis mohon memasuki eh… Tidak sia-sia ternyata tiket seharga 800 Baht itu. Pertunjukannya sangat keren. Mirip pertunjukan 4D. Latar panggungnya berubah-ubah menggunakan seting sebenarnya, ada pohon, karang, tembok, kadang seperti layar bioskop, tata lampu hebat, tariannya cakep banget, dan musiknya pun membuat semuanya makin spektakuler.

Bangkok, Thailand

Older Posts »

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: