Gugus Syuhada

August 24, 2013

Hari ketiga :Bangkok

Filed under: Traveling — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 6:41 pm

Dua hari telah berlalu. Setelah mendarat di hari pertama dan hari kedua jalan-jalan ke area wajib turis, hari ketiga di Bangkok tidak lengkap kalau tidak belanja. Dan tempat yang pas buat kantong kami adalah weekend market Chatuchak. Jadi hari ketiga di Bangkok bertema belanja murah di pasar. Diawali dengan bangun tidur ku terus mandi pukul setengah enam, dilanjutkan sarapan ringan seperti biasa : roti, yoghurt, dan susu fermentasi yang dibeli di Seven Eleven dekat hotel. Kita berangkat pukul tujuh dengan rencana rute floating market Thalingcham, pasar Chatuchak, dan pasar malam Phatpong. Karena tidak tahu, ke sana menggunakan apa dan harus berhenti di mana kami bertanya ke resepsionis hotel. Dan oleh mbak resepsionis yang ramah tersebut kami mendapatkan info, cara termudah adalah menggunakan taksi atau bus nomor 515. Dia pun menuliskan nama pasar Thalingcam dalam bahasa Thai, sehingga memudahkan kami pada saat bertanya ke sopir taksi atau bus.
Setelah mempertimbangkan kalau lebih mudah menggunakan taksi, kami pun memberhentikan sebuah taksi di depan hotel dan menyodorkan tulisan dalam bahasa Thai yang dibuat oleh mbak resepsionis tadi. Sopirnya pun dengan sigap menjawab ok dan menyalakan argo/meter. Kami memilih taksi yang berwarna pink, karena selama di Bangkok dua hari sebelumnya kami memperhatikan taksi yang paling banyak adalah taksi pink ini dan lampu di atas taksi bertuliskan “taxi meter”. Sepanjang perjalanan sopir taksi yang teryata cukup ramah berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan kami dengan bahasa Inggris aksen Bangkok. Seperti ‘s’ yang dilafalkan ‘t’, ‘r’ menjadi ‘l’ atau bahkan tidak dibaca. Misalnya BTS pak sopir membacanya “bi ti et”, “metro” menjadi “meto”, nama ratu mereka yang tertulis “Sirikit” dibaca “Silikit”, bahkan nama pak sopir sendiri dikenalkan ke kami sebagai “Lungchanacai” padahal kartu nama yang ditunjukkan kepada kami tertulis “Mr. Rungchananchai”. Dan ada yang lucu, saat saya bertanya adakah gajah putih di Bangkok? Dia menjawab tidak ada tapi kalau mau lihat bisa diantarkan ke tempat untuk melihatnya karena itu searah dengan tujuan kita. Seperti itulah kira-kira jawaban yang saya tangkap, cukup membingungkan : tidak ada tapi bisa ditunjukkan. Kemudian saat tiba barulah kami sadar, Mister Lungchanacai atau tepatnya Mister Rungchanacai membawa kami ke pertigaan di dekat Grand Palace. Di situ memang terdapat patung gajah berwarna putih-ke pink-pinkan (saya pun bingung menuliskannya bagaimana). Dan dengan tertawa kecil, mister Lung berkata, “that’s the white elephants, but not live hehehe…” Inilah gajah yang dimaksud :

20130824-224244.jpg
Sekitar pukul setengah sembilan kami pun tiba di pasar Thalingcam. Pasarnya tidak besar, area depan adalah area penjual tanaman dan jajanan pasar. Kami membeli jajanan yang berbentuk mirip apem dengan harga 25 baht isi lima. Cukup enak, ada rasa pisang, kelapa dan manis gula. Kami berjalan terus memasuki pasar yang ternyata tersambung langsung dengan sungai. Terdapat beberapa penjual seafood di atas perahu atau di platform yang mengapung termasuk meja makan untuk lesehannya.

20130824-225004.jpg

20130824-225037.jpg

Makanannya segar-segar. Kami membeli ikan bakar untuk sarapan kedua berikut nasi putih, lalapan, sambel mangga dan teh tawar. Ikannya enak sekali dan sangat gurih. Satu ikan untuk dua orang, dihargai 170 baht. Terdapat berbagai menu lain seperti cumi yang sangat besar, udang jumbo lima ekor/porsi, kepiting, yang rata- rata dijual 170 baht juga. Tidak banyak turis di tempat ini, entah karena mereka pergi ke pasar terapung Damnoen Saduak, di provinsi Ratchaburi yang jaraknya 110 km dari kota Bangkok, atau memang masih terlalu pagi untuk makan berat. Yang jelas rata-rata yang makan pada saat itu adalah orang-orang lokal. Ada yang satu keluarga, pasangan ataupun jomblo. Setelah kenyang makan, rute selanjutnya adalah weekend market Chatucak yang lokasinya bisa dijangkau menggunakan BTS atau bus dari daerah Victory Monument.
Karena yang kami tahu BTS, kami pun berencana menggunakan bus 515 yang menuju stasiun di dekat Victory Monument. Stasiun BTS ini berjarak 5 stasiun dari stasiun Chatucak. Tapi bus 515 tidak lewat di depan pasar Thalingcam. Hanya ada tuk-tuk seukuran angkot dan muat sekitar 8-10 orang penumpang. Tarifnya jauh-dekat 7 baht yang tertera di dinding tuk-tuk. Setelah mendapat bantuan penjelasan dari penumpang yang bisa berbahasa inggris kami turun di satu perempatan untuk ganti tuk-tuk yang menuju jalan besar. Jalan dimana bus 515 lewat. Sesampai di halte bus kami menyetop tuk-tuk dengan menekan bel. Kami menunggu bus tak terlalu lama. Bus ini lebih nyaman dibanding bus 82 yang kami naiki kemarin, ada AC dan tempat duduk yang empuk. 15 baht perorang harus kami bayar. Tarif ini dihitung berdasarkan jarak dari naik ke tujuan akhir. Kami tahu hal ini karena ada orang mungkin dari Jepang atau Korea yang ngomong dengan kencang ke kondektur kalau mau turun di Victory Monument dan hanya dikenai tarif 10 baht. Dia naik dari halte yang agak jauh setelah halte tempat kami naik.
Tiba di stasiun BTS Victory monument kami langsung antri beli tiket kereta. Antriannya sangat panjang. Jika kita punya uang koin sebenarnya bisa langsung beli dari mesin. Cara perhitungan tarifnya memang lebih rumit dibanding beli langsung di loket yang tinggal menyebutkan tujuan dan bayar tarif yang diminta. Tapi setelah mempelajari dari papan petunjuk kami pun mengerti. Sebenarnya kami tinggal menghitung berapa stasiun yang akan kami lalui termasuk stasiun keberangkatan dan masukkan koin untuk membayar tarif yang bersesuaian. Mesin akan mengeluarkan kartu tiket/token dan kembalian jika uangnya berlebih. Jangan kuatir jika salah hitung stasiun sehingga memilih jumlah tarif yang salah di mesin. Misalnya jika kita berhenti setelah 5 stasiun padahal tarif yang kita pilih hanya untuk 4 stasiun maka di stasiun tempat kita berhenti, kartu atau token kita akan ditolak mesin pembuka pintu dan kita tidak bisa keluar. Kita tinggal ke petugas loket atau penjaga pintu dan dia akan membantu menukarkan kartu ke loket dan kita tinggal membayar selisih harganya.
Tiba di Chatucak, kami berjalan mencari barang-barang yang dibutuhkan yaitu baju, oleh-oleh, magnet kulkas dan miniatur ikon kota/negara. Karena kami punya rencana mengumpulkan semua magnet kulkas dan miniatur ikon kota/negara yang kami kunjungi. Sayangnya kami tidak menemukan miniatur Grand Palace, jadi miniatur gajah putihlah yang kami beli. Saran untuk yang mau ke Chatucak, mempelajari peta tataletak pasar akan memudahkan mencari tempat yang ingin didatangi baik saat pertama datang atau kembali lagi ke tempat tersebut. Karena pasarnya sangat besar dan jualannya hampir sama.
Di pasar itu, berbagai bahasa, aroma, jenis barang, dan orang dipersatukan. Tawar menawar harga biasanya menggunakan kakulator. Tidak ada panduan yang jelas untuk harga jual sebenarnya. Tetapi seringkali kami membandingkan dengan harga di Indonesia dan menemukan sebenarnya lebih mahal tapi susah mencarinya, atau jika kami suka barangnya dan malas lagi memutar untuk mencari dan tawar-menawar karena sudah capek tetap saja membeli. Yang jelas menawar itu wajib, 50 persen dari harga awal untuk membuka dan berhenti di harga maksimal yang mau kita bayar. Sekedar info kami bertemu tiga orang bapak-bapak yang sedang kulakan buat jualan di satu kota di Sulawesi, dan Mangga Dua. Mereka belanjanya mungkin ratusan kilo karena pengirimannya menggunakan kapal atau pesawat dan hanya sedikit yang dibawa sendiri menggunakan pesawat yang mereka tumpangi. Selain Chatucak ini, mereka kulakan dari China juga. Minimal sebulan sekali ke Chatucak terutama bapak yang dari mangga dua. Hebat! Jadi kalau kangen belanja barang-barang Thailand ke Mangga Dua pun cukup mewakili, atau mungkin juga ITC-ITC di seluruh Jakarta.
Selesai belanja saatnya makan siang tom yam yang terkenal enak di Bangkok. Karena sudah sampai Bangkok, kami ingin mencoba makanan khas terbaik. Hasil googling kami menghasilkan bermacam-macam tempat. Ada yang menyarankan di beberapa hotel bintang lima, ada yang bilang semua warung jalanan yang jualan tom yam pasti enak, dan ada beberapa nama restoran yang disebutkan. Ya memang relatif ya soal rasa. Akhirnya kami memilih restoran Somboon seafood</a. Alamatnya di dekat dengan stasiun metro Huay Kwang. Ketika keluar dari stasiun kami putar-putar mencari, tanya tukang ojek, kakek-kakek di halte yang sedang menunggu bus, kasir Seven Eleven, hingga pak polisi, akhirnya ketemu juga restoran ini. Ternyata letaknya saat keluar dari stasiun menggunakan exit nomor 3 (Emerald Hotel), tepat sebelah kanannya. Di deretan ruko-ruko yang banyak tempat pijat, di sebelah sebuah bank. Bukanya mulai pukul empat sore. Benar banget makanannya superb. Makanan khas restoran ini sejak 1969 tertulis besar-besar di depan restoran adalah fried curry crab. Rasanya yummy sekali terutama sausnya. Makannya tingal nelan tanpa dikunyah. Slurrp… Sangat kaya rasa dan lembut. Pesanan kami adalah kbjtom yam goong, fried curry crab dan cha kangkung, semua ukuran kecil karena cuma berdua. Total kerusakan 826 baht. Miriplah seperti makan di Rumah Makan Ujungpandang BSD.

20130825-081748.jpg
Masih bertemakan belanja, rencana terakhir adalah mengunjungi night market. Informasi dari pelayan di restoran Somboon, kami harus turun di stasiun MRT/Metro Lumpini atau Si Lom. Kalau lihat di peta, Si Lom itu setelah Lumpini. Jadi di pikiran kami, jika kami turun di Lumpini dan berjalan ke arah Si Lom tentu kami bisa melihat-lihat pasar sepanjang perjalanan. Yah, kenyataan seringkali tidak sesuai rencana. Kami kesasar. Kami harus berjalan sangat jauh ke arah Si Lom, dengan suasana sepi di di pinggir jalan besar. Di sebelah kanan, taman Lumpini yang gelap dan di sebelah kiri, gedung-gedung perkantoran yang sudah tutup dan beberapa diantaranya memajang foto Queen Sirikit. Kami ingat bapak sopir taksi pagi tadi, Mister Lung, yang menjelaskan tanggal 23 Agustus adalah hari ulang tahun ratu yang ke 81. Makanya sepanjang jalan banyak foto ratu dipasang. Kadang satu foto sendiri saja, kadang ada dua foto, satu foto sendirian, satu foto lagi berdua dengan raja.

Ketika tiba di Si lom, kita baru ngeh kalau night market itu seperti jalanan yang kiri kanannya banyak pedagang kaki lima. Apanya yang spesial, kami pikir. Ternyata, selain pedagang makanan, baju, aksesoris, dvd (porno kebanyakan, untuk pria/wanita straight atau homoseksual), ada juga penjual sex toys, obat-obat kuat seperti viagra dan cialis. Toko-toko sepanjang jalannya selain hotel terdapat tempat pijat, salon, bar, dan karaoke. Ya sudahlah, pulang saja kalau begini. Kami pun berjalan ke arah stasiun. Naik kereta menuju hotel dengan kepala penuh jutaan fantasi.

Bangkok, Thailand

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

memuji boleh komen silakan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: