Gugus Syuhada

June 2, 2012

Beda Oil Company dan Oil Services Company

Filed under: Oil and Gas — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 3:08 am

Oil Company adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang eksplorasi dan produksi minyak mentah.  Contohnya yang paling terkenal adalah supermajor oil companies yaitu perusahaan minyak swasta yang tidak dimiliki oleh negara dan terkenal di berbagai media finansial di dunia. Dengan menggunakan nama dagang yang berbeda-beda di seluruh dunia, mereka adalah :

Meskipun sangat populer, grup supermajor ini hanya menguasai 5% dari total cadangan minyak dan gas dunia. Sedangkan 95% sisanya dikuasai oleh oil company yang dimiliki oleh negara dan sebagian besar berada di Timur Tengah. Financial Times pada tanggal 11 Maret 2007 mengidentifikasi New seven sisters, yaitu grup oil company paling berpengaruh berdasarkan negara di luar OECD yaitu :

Sedangkan oil service company adalah perusahaan yang menyediakan service kepada oil company dan ini berarti oil service company bukanlah perusahaan yang memproduksi minyak. Contohnya, diurutkan berdasarkan besarnya revenue pada tahun 2008 yang saya kutip dari sini, adalah :

1. Schlumberger Limited
2. Halliburton
3. Saipem
4. Transocean Ltd.
5. Baker Hughes
6. Fluor
7. Weatherford International
8. BJ Services Company
9. Petrofac
10. China Oilfield Services Ltd.

Sekarang sudah tahu kan bedanya? Kalau begitu menurut anda, Pertamina termasuk yang mana?

May 31, 2012

Surface Well Testing : Sebuah Pengantar

Filed under: Well Testing — Tags: , , , , — Gugus Syuhada @ 1:29 am

Untuk melakukan tes sebuah reservoir dengan akurat, suatu tes haruslah dilakukan pada bagian downhole dan surface. Karena teknologi pada saat postingan ini ditulis, sependek pengetahuan saya, belumlah memungkinkan untuk dilakukan seluruh tes di bagian downhole sehingga diperlukan tes pada bagian surface  (surface testing). Untuk melakukannya, sebuah reservoir harus berada pada kondisi dinamis. Hal ini berarti reservoir haruslah “diganggu” untuk menghasilkan perubahan pressure yang akan direkam dan diinterpretasi dengan perhitungan flowrate untuk mendapatkan informasi mengenai sumur dan parameter reservoir.

“Gangguan” terhadap reservoir ini dilakukan tergantung pada kondisi apakah sumur sedang ditutup ataukah berproduksi :

  • Jika sedang ditutup untuk jangka waktu yang lama, membuka sumur atau membuatnya berproduksi merupakan cara terbaik untuk membuat perubahan pressure. Hal ini disebut drawdown.
  • Jika sumur sedang berproduksi untuk jangka waktu yang lama, perubahan pressure dilakukan dengan cara menutup sumur. Hal ini disebut buildup. Perubahan pressure pun bisa dilakukan dengan cara menaikkan atau menurunkan flowrate pada sumur yang berproduksi/mengalir.

Pada bidang ilmu reservoir engineering, waktu dimana sumur mengalami perubahan pressure disebut dengan pressure transient. Di surface, fluida baik minyak ataupun gas pada saat pressure transient haruslah ditangani oleh satu set equipment sementara. Hal ini disebabkan karena fasilitas produksi yang permanen belumlah tersedia. Surface well testing equipment sementara ini harus bisa digunakan dengan aman untuk :

  • mengatur pressure dan flowrate di surface secara cepat dan bisa juga untuk menutup sumur
  • memisahkan effluent (fluida yang dihasilkan dari sumur) menjadi tiga bagian yaitu gas, minyak dan air dan mengukur flowrate-nya
  • mengambil sampel di surface 
  • membuang fluida yang diproduksi secara aman dan ramah bagi lingkungan.

Untuk melakukan fungsi seperti di atas, berikut adalah daftar equipment yang biasa digunakan surface well testing:

  • Flowhead
  • Choke manifold
  • Emergency Shut Down (ESD) system
  • Heat exchanger
  • Separator
  • Tangki
  • Pompa transfer
  • Manifol minyak dan gas
  • Burner
  • Pipa

Kalau sudah tidak sabar untuk mengetahui penjelasan masing-masing fungsi dan seperti apa bentuk equipment tersebut, bisa cari sendiri di  http://www.glossary.oilfield.slb.com/. Sedangkan untuk melakukan pengaturan dan pemilihan equipment yang akan digunakan minimal terdapat dua faktor yang menjadi pertimbangan yaitu :

1. Faktor lokasi

Lokasi darat atau laut (onshore/land atau offshore/lepas pantai). Perbedaan keduanya bisa dibaca postingan saya yang ini.

2. Faktor kondisi sumur

  • pressure dan flowrate tinggi
  • jenis kandungan effluent (misal jika diperkirakan akan ada pembentukan hydrate diperlukan pompa injeksi)
  • kandungan pasir
  • fluida yang bersifat korosif (H2S, CO2 dan zat asam)

Kalau ada yang mau ditambahkan atau yang dibagi mengenai pengantarsurface well testingboleh dituliskan di bagian komen di bawah.

Erbil, Iraq

May 28, 2012

Well Testing Overview

Filed under: Well Testing — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 3:26 am

Di postingan sebelumnya telah disinggung sedikit tujuan dari well testing, yaitu menjawab beberapa pertanyaan utama berkaitan dengan reservoir. Dari tiga pertanyaan tersebut, bisa ditambahkan dua pertanyaan lainnya yaitu akankah reservoir bisa mengalir dan seberapa lama reservoir akan menghasilkan keuntungan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidaklah bisa dijawab dengan menggunakan teknik logging, ataupun mud logging, corring, dan seismic. Meskipun begitu teknik-teknik tersebut menghasilkan informasi-informasi penting tentang kondisi statis dari sebuah reservoir, yaitu :

  •  Porosity : rasio antara rongga kosong terhadap volume total batuan di dalam reservoir. Bayangkan saja spongebob untuk mudahnya. Misal reservoir adalah spongebob, nah batuannya adalah yang berwarna kuning dan yang bolong-bolong  itu adalah rongga kosong. Di sinilah pentingnya porosity, untuk menentukan seberapa banyak minyak yang bisa disimpan (di dalam rongga-rongga kosong tersebut).
  • Litologi : karakteristik sebuah batuan, baik itu komposisi mineral dan strukturnya.
  • Tipe batuan : batuan dibedakan dari tingkat kekerasan dari mineral yang dikandungnya.
  • Water saturation : persentase rongga kosong yang diisi oleh air. Persentase ini berkaitan dengan persentase rongga kosong yang ditempati oleh minyak. Sehingga total water saturation dan oil saturation adalah 1.

Jika sudah tahu untuk apa itu well testing, pertanyaan selanjutnya adalah kapan well testing dilakukan? Well testing bisa dilakukan pada berbagai tahap dalam well construction, completion dan production. Jadi bisa dibilang well testing bisa dilakukan pada saat drilling, saat sedang disiapkan sebelum produksi hingga pada saat sumur sudah bertahun-tahun berproduksi, seperti yang sering saya lakukan pada saat berada di Basra.

Karena tujuan well testing adalah untuk menjawab pertanyaan, pastilah hasilnya adalah berupa data. Data-data yang didapat yang didapat dalam tahap akuisisi data adalah :

  • Flow rates (Q) : data ini didapat menggunakan surface well testing, bagian dimana saya bekerja sekarang. Agar fluida dari sumur bisa mengalir dan diukur digunakanlah berbagai macam peralatan dari dalam sumur (downhole)  hingga ke surface. Peralatan downhole  yang digunakan bisa permanen (completion) atau temporer (drill stem testing/DST).
  • Pressure dan Temperature : Initial reservoir pressure , pergerakan pressure (P) dan temperature (T) didapatkan dari nilai P dan T downhole. Nilai ini direkam melalui gauge yang diletakkan di reservoir dalam peralatan DST atau digantung menggunakan kabel wireline atau slickline.
  • Data PVT : Fluida yang dihasilkan dari reservoir diidentifikasi menggunakan Pressure, Volume dan Temperature. Data PVT ini diturunkan dari analisis lab terhadap sampel yang diambil baik di surface ataupun downhole.

Dari data-data yang didapat dalam tahap akuisisi, dalam tahap selanjutnya dilakukan interpretasi untuk evaluasi sehingga bisa dilakukan kalkulasi untuk menghasilkan informasi yang pada akhirnya digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar di atas. Karena well testing interpretation adalah tahap tingkat lanjut dan saya berjanji akan menulis hal yang tidak berat maka tahap interpretasi tidak saya perpanjang.

Cukup menarik bukan apa yang bisa kita kerjakan dalam well testing secara garis besar. Akan lebih menarik lagi jika kita nanti masuk ke tahap detailnya. Banyak hal yang akan kita pelajari dan bisa kita terapkan bahkan dalam kehidupan keseharian kita. Semoga cukup menjelaskan, jika ada yang mau ngobrol-ngobrol bisa juga melalui email yang bisa dilihat di About me atau follow twitter saya di @gugussyuhada.

May 25, 2012

Well Activities (Aktivitas sebuah Sumur)

Filed under: Well Testing — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 6:35 am

Ceritanya kan saya ngaku-ngaku sebagai well tester nih, tapi tulisan saya di blog ini belum ada yang menjelaskan apapun tentang dunia minyak selain sedikit cerita kehidupan yang saya alami di beberapa tempat kerja di industri perminyakan. Untuk itu agar afdol, saya mau memulai seri tulisan yang agak serius, yang menjelaskan tentang industri perminyakan. Di sini saya berusaha agar tidak sotoy dan tulisannya tidak berat. Istilah-istilah yang menggunakan bahasa Inggris, akan tetap saya tulis dalam bahasa Inggris dengan alasan istilah-istilah tersebutlah yang digunakan dalam prakteknya meskipun di Indonesia sekalipun. Pertama-tama (kayak pembukaan pidato era Pak Harto), saya akan menggambarkan secara garis besar darimana industri ini berawal dan akan berakhir. Sebenarnya akan lebih membantu jika ada ilustrasi, tetapi saya tidak terlalu jago menggambar jadi untuk saat ini cukup tulisan saja dulu. Kalau ada teman-teman yang membaca tulisan ini dan mau membantu saya dalam membuat ilustrasi kontak saya ya (lihat di about)

1. Seismic

Aktivitas ini merupakan awal dari segalanya. Tujuannya untuk menentukan dimanakah lokasi yang kemungkinan mengandung minyak bumi atau gas dengan cara membuat suatu gelombang akustik dengan bahan peledak misalnya, yang nanti akan memantul dari setiap lapisan perut bumi untuk diterima oleh sensor-sensor. Hasil rekaman sensor-sensor tersebut kemudian akan dinterpretasi oleh komputer.

2. Drilling and Well Construction

Setelah lokasi yang kira-kira mengandung minyak atau gas diketahui, maka aktivitas selanjutnya adalah drilling (pengeboran) yang dilakukan dengan menggunakan rig. Drilling bisa dibilang sebagai satu-satunya cara untuk memastikan bahwa di dalam lokasi yang sudah ditentukan itu memang benar terdapat minyak atau gas. Selain drilling, ada beberapa aktivitas lain yang dilakukan di rig seperti completion, production testing, sidetracking dan reconditioning well. Untuk istilah-istilah yang bercetak miring akan dijelaskan lebih lanjut nanti.

3. Well Logging

Logging dalam bahasa inggris berasal dari kata “log”  yang digunakan untuk mengartikan “merekam” atau “mencatat”. Terus apa yang dicatat atau direkam ? Di antaranya adalah pengukuran fisik sumur baik dari dalam ataupun sekitarnya. Logging dilakukan dengan cara memasukkan suatu alat perekam ke dalam sumur dan mentransmisikan datanya melalui wireline (kabel yang dibalut dengan kawat seperti sling) ke atas untuk direkam oleh komputer.

4. Well Testing

Nah sampai juga ke bagian aktivitas yang cukup akrab karena sering disebut di dalam beberapa tulisan sebelumnya. Aktivitas ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari klien (oil company) seperti :

  • Seberapa besar reservoir yang saya punya ? Yang sanggup berproduksi hingga 20 tahun ? 10 tahun atau cuma 1 tahun ?
  • Seberapa besar sumur ini akan berproduksi ? 1000 barel per hari ? 100 barel per hari ? atau berapa ?
  • Apa yang diproduksinya ? Minyak kah, gas kah, atau apa ?

Sehingga bisa disimpulkan secara sederhana tujuan dari well testing. Yaitu mendapatkan data untuk memprediksi ukuran sebuah reservoir, menentukan kemampuan produksi sebuah reservoir, dan mengidentifikasi apa yang diproduksi sebuah reservoir. Tahap inilah yang akan menjadi fokus saya untuk dijelaskan lebih detail.

5. Well Completion

Pada tahap ini aktivitas yang dilakukan adalah menyiapkan sebuah sumur agar bisa berproduksi dengan baik dan aman. Aktivitasnya meliputi perforasi, memasukkan dan meletakkan tubing di dalam sumur, mengeset packer, menempatkan tubing hanger dan christmas tree. Pohon natal ? Yup, sebenarnya sih semacam kumpulan valve yang digunakan untuk mengatur aliran sumur.

6. Artificial Lift

Suatu sistem yang digunakan untuk membantu sumur yang masih memiliki minyak tapi tidak punya cukup “energi” untuk mengalir ke atas. Sistem yang digunakan bisa berupa gas lift atau pompa. Kalau teman-teman pernah lihat film hollywood yang berseting di Texas mungkin pernah melihat pompa seperti kepala kuda yang mengangguk-angguk. Itu merupakan salah satu contoh selain pompa-pompa canggih terbaru yang ditanamkan di dalam sumur.

 

 

 

 

7. Production

Tahap ini merupakan tahap terakhir sebuah sumur, dimana minyak atau gas dialirkan melalui completions menuju fasilitas produksi untuk dijual secara komersial sampai suatu saat sumur ini tidak bisa mengalirkan apa-apa lagi.

Duhok, Iraq.

May 22, 2012

Jika seorang well tester sedang galau

Filed under: Well Testing — Tags: , , , , — Gugus Syuhada @ 4:16 am

Dengan bekerja jauh dari rumah dan keluarga, baik istri maupun orang tua. Saya tentu saja bisa galau. Bayangkan saja, berpisah minimal enam minggu dengan komunikasi yang terbatas email, chatting via yahoo messenger, sms, ataupun skype. Beruntung sekarang ada bbm sehingga lebih mudah, murah dan tidak tergantung koneksi internet. Saya tidak bisa melihat sehari-hari wajah istri saya, ngelus-elus rambutnya yang besar, pegangan tangan kalau lagi jalan (yang ada cuma pegangan handle choke manifold atau hammer), atau sekedar cium pipinya ketika bangun pagi hari (duuuh, nyesek sendiri nulis gini). Tetapi sudahlah saya musti move on. Saya musti bisa menghilangkan kegalauan hati ini dengan berbagai cara. Berikut ini adalah cara-caranya :

1. Nonton film

Tidak seperti jika berada di kota yang bisa dengan mudahnya pergi ke bioskop, pilih film terbaru yang cocok dengan selera, beli tiketnya, tunggu waktu main dan duduk nonton.  Di rig, yang bisa saya lakukan adalah nonton film di laptop pembagian  kantor yang tentu saja sudah dilengkapi berbagai macam software movie player  beserta codec-nya.  Filmnya bisa berasal dari koleksi yang ada di hard disc portabel (lihat post saya sebelumnya tentang 10 things a well tester must have) yang cukup banyak karena sering tukar-tukaran koleksi dengan well tester lainnya atau teman-teman yang dijumpai di rig. Bisa juga berasal dari DVD film bajakan yang dibeli di glodok. Kalau mau murah bisa beli langsung seratus biji dengan harga 2500 perak saja, dengan satu syarat tidak bisa dicoba. Yaiyalah, mau berapa jam nyobanya? Dari banyaknya koleksi yang dipunya, saya berusaha menghindari film-film romantis (U know why) dan berusaha menonton film-film aksi atau dokumenter sekalian. Dan saya paling suka menonton film seri, karena pembunuh waktu yang efektif, saking efektifnya bisa merusak jam tidur dan musti dihindari jika sedang rig up atau rig down.

2. Baca buku / novel

Saya seringkali menghabiskan baca satu buku utuh jika berada di rig daripada di rumah pada saat off. Contohnya saya menghabiskan Nagabumi 1 dan 2 di Iran, semua buku Malcolm Gladwell yang diterbitkan Gramedia, Biografi Steve Jobs, History of the Arabs, Anak Desa (Biografi pak Harto), dan lain-lain. Kok ga ada buku tentang well testing ? Yaah, lagi galau masa disuruh belajar.

3. Ngobrol dengan teman-teman dari perusahaan lain

Jika beruntung, biasanya bisa bertemu dengan orang dari Indonesia atau serumpun, Malaysia. Jadi bisa berasa di negeri sendiri dan ga perlu mikir sebelum ngomong pakai bahasa inggris. Obrolannya bisa ngalor ngidul, mulai dari kerjaan, pengalaman-pengalaman kerja yang kadang-kadang lucu, membanggakan, menyeramkan atau sedih, tentang politik, usaha yang dimiliki, dan keluarga. Kalau sudah ngomong tentang keluarga saya bisa jadi ingat rumah dan istri, dan terpaksa saya mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik-topik lain. Kalau tidak berhasil, sudah saatnya mengeluarkan alasan klasik dengan cara pura-pura menguap dan bilang sudah mengantuk. Lagi-lagi, orang sudah galau kok diingetin tentang keluarga. Move on dong.

4. Bersih-bersih kontainer atau area testing

Meski ini jarang dilakukan, tapi cukup efektif juga menghilangkan rasa galau di hati. Selain itu bikin tempat kerja jadi rapi dan bersih.

5. Main game

Karena tidak terlalu suka game berat, maksimal need for speed, biasanya cukup game-game ringan seperti Zuma revenge, bounce,feeding frenzy, pizza frenzy dan sejenisnya. Yah maklum udah tua, game-nya game jadul. Atau juga bisa main catur meski harus cari lawan main terlebih dahulu. Kalau dulu sih, bisa maen gaple atau remi karena semuanya suka main kartu.

Kelima cara di atas adalah yang biasanya saya lakukan. Tetapi ada juga cara-cara lain yang saya dapat dari teman-teman yang lain, yaitu :

  • Browsing internet. Bisa tentang hobi masing-masing misal mobil dan info-info seputarnya, situs jejaring sosial dulu friendster atau orkut tergantung asal negara, sekarang facebook dan twitter. Inipun kalau beruntung dapat koneksi internet. Saya ada teman, yang bisa hanya buka facebook dan bermain-main dengannya 10 jam terus-menerus.
  • Foto-foto. Jika punya hobi fotografi dan kamera.
  • Otak-atik excel atau macro-nya. Sangat-sangat positif. Wajar saja sekarang teman ini sudah jadi manajer.
  • Merokok atau shisha.
  • Memancing. Ada beberapa rig yang mengijinkan selama itu dilakukan pada jam-jam off shift. Biasanya hasil pancingan diserahkan tukang masak dan dihidangkan pada saat jam makan. Dan ikan yang benar-benar segar (hanya beberapa jam dari dipancing) ternyata sangat-sangat dahsyat rasanya saudara-saudara mau dimasak dengan cara apapun.
Sekianlah berbagai cara yang biasa saya dan teman-teman lakukan jika sedang galau tapi tidak bisa pulang dengan mudahnya. Sekarang pertanyaannya, apakah cara-cara di atas berhasil ? Ah, kayak yang tidak pernah galau saja.

 

Duhok, Iraq.

May 19, 2012

Beberapa kisah di industri perminyakan

Filed under: Well Testing — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 5:00 am

“it’s your attitude not your aptitude to make You altitude”

- Zig Ziglar

Dua tahun lalu saya berjumpa dia sebagai sopir mobil antar jemput personel perusahaan downhole tester. Sekarang, secara kebetulan kami bertemu lagi di sebuah rig, ia menjadi salah satu personel di perusahaan downhole tester tersebut. Kemudian ada seorang dari Bangladesh yang dua tahun lalu bekerja sebagai room boy di guest house. Di rig yang sama saya berjumpa dia sebagai operator cementing. Ada juga seorang bapak yang kini tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Barat yang menjadi driller padahal dulunya adalah seorang sopir angkot. Beberapa orang yang saya jumpai di rig dengan berbagai macam posisi juga mengaku berlatar belakang jauh berbeda dari yang dikerjakan sekarang. Ada yang dulunya adalah anggota sekuriti, mantan tentara, pekerja tambang, buruh pabrik, sopir taksi, dan tukang las. Beberapa kesamaan dari mereka adalah keberanian untuk merantau, pekerja keras atau rajin dan mau belajar terutama bahasa (Inggris). Di dunia minyak yang sempit ini, bahasa Inggris paling banyak digunakan sebagai sarana komunikasi karena beragamnya latar belakang asal pekerjanya. Dan inilah yang membuat, menurut saya, pekerja asal India dan Negara-negara pecahannya yang dulu pernah dijajah Inggris banyak berada di kawasan Timur Tengah. Keahlian ini juga lah yang membuat ada kawan yang meskipun tak seberapa berpengalaman bisa naik hingga ke level manajemen sedangkan kawan yang lain karena kurang ahli berbahasa Inggris membuatnya tertahan di level yang itu-itu saja meskipun sangat bagus kemampuan dan pengalamannya. Dari berbagai kisah di atas, saya mendapat kesan bahwa sikap kerja dan kemampuan bahasa inggris-lah yang paling memberi pengaruh jika bekerja di industri perminyakan.

 

Duhok, Iraq

May 16, 2012

You forget You F*cked up

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 7:12 am

Sama halnya dengan postingan di bawah. Ini sebenarnya postingan lama bertanggal 13 Maret 2007 di blog iseng-iseng saya.

Dalam dunia per-Testing-an, ada suatu semboyan yang menurut saya sangat mengena dan pas. Bukannya Nobody’s gets hurts seperti punya Rasgas atau Safety first seperti hampir semua perusahaan punya semboyan tapi You forget You f**ked up. Di testing dari semua equipment yang dipunya hampir semua punya valve, dan semuanya penting. Salah satu lupa buka atau tutup bakalan f**ked up. Gak ada yang enggak penting. Waktu operasi valve juga begitu, harus buka satu dulu baru tutup yang lainnya. Kalo lupa, lagi f**ked up. Selain valve juga ada pernak-pernik lain yang mesti diinget, chart di foxboro diganti setiap hari di jam yang sama. Setelah valve ada propane, angin dari kompresor, line up ke burner ketika mau flowing, kalo lupa f**ked up. Belum lagi masalah safety meeting, work permit, pressure rating, color code, data yang harus diambil, parameter well sudah clean atau belum, bahkan putaran sebuah valve pun harus ingat, oya setelah menghitung putaran tersebut harus diputar balik seperempat putaran. Buanyak banget. Gak susah, tapi banyak dan harus ingat semua. Kalo lupa, f**ked up. Jadi pesen dari seorang teman dari Syiria saya cantumkan untuk menutup blog ini : “If You wannabe a well tester just be a good reminder person, because if You forget You f**ked up.

 

Teluk Persia, Perairan Qatar

Western Toilet vs Asian Toilet

Filed under: Well Testing — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 7:05 am

Tulisan ini sebenarnya berasal dari blog iseng-iseng saya bertanggal 23 Maret 2007. Hanya karena masih berkaitan dengan dunia kerja saya, makanya saya jadikan satu saja di blog ini. Silakan dinikmati.

Ada satu tempat favorit saya ketika berada di rig. Terutama sekarang, karena kini saya berada di rig ENSCO 94, di perairan Qatar, laut teluk yang berbatasan dengan perairan Iran. Di rig ini hampir semua kru rig adalah orang India, ada yang berasal dari Kerla, Gowa, Bangangalore, Bombay dan lain-lain. Sedangkan bagian level management, mulai dari driller, barge engineer, Tool pusher hingga OIM serta company man berasal dari Texas, USA. Dengan kata lain ada dua kebudayaan yang diwakili : Asia dalam hal ini India dan Western yaitu Amerika. Dua perbedaan ini selain membuat para koki memasak dua jenis masakan juga membuat adanya dua jenis toilet, ya itu tadi Asia dan Western. Yang tertulis jelas di pintu toilet, Asian toilet untuk toilet jongkok dan Western Toilet untuk toilet duduk. Hal inilah yang mengilhami saya untuk memposting tulisan ini sekaligus membahas tempat favorit di rig.
Kembali ke masalah tempat favorit, tentu sudah tahu. Ya betul itu adalah toilet. Ya, toilet. Karena di toilet itu ,demikian tenang (sekedar informasi kamar saya berada tepat diatas engine room yang bekerja 24 jam non-stop lengkap dengan getaran dan bisingnya), sehingga pikiran saya bisa menerawang kemana saja saya mau. Ke kantor Pulogadung dengan bunyi crane-nya yang khas, kamar kosan yang sempit,lembab, bau tapi saya suka*, ke Bandung dengan seorang gadis yang sedang menunggu dan GII-nya, ke Madiun dengan Emak dan dua anak anjing besar kecil, ke warung pecel lele dekat kosan pinggir got sebelah halte, juga ke jalanan macet kota Jakarta dan trans jakarta-nya. Selain itu, toilet merupakan satu-satunya tempat dimana kita bisa sendirian. Sehingga bisa dipakai untuk tidur(hehehe, piss pak Suri) di waktu onduty jika sedang tidak ada aktivitas buat well testing. Dan kebetulan juga saya berada di shift malam (dari pukul 12 malam hingga pukul 12 siang). Ada satu lagi kenapa saya menjadikan toilet sebagai tempat favorit saya,karena di situ saya bisa menumpahkan semua yang menjadikan kentut saya bau dan perut saya mules ke dalam lubang toilet. Hehehe…Itu kan fungsi utama toilet.
Jika ditanya lebih suka mana diantara dua toilet tersebut. Saya memilih toilet Asia, karena lebih pas dengan selera saya. Tetapi karena saya tidak bisa tidur sambil jongkok dan tersedia terbatas saya lebih sering memakai toilet western meskipun kadang suka perih keluar dari toilet. Maklum,kan pakai tissu.

Update note : di semua toilet di rig ENSCO 94, ada tanda peringatan untuk tidak jongkok di western toilet.  Karena ada sebuah kecelakaan di rig yang lain.Toilet itu pecah ketika seseorang menggunakan western toilet dengan jongkok dan pahanya sobek karena terkena pecahan toilet.

*Lagu Surti-Tejo dari Jamrud : “hilang Tejo yang dulu  ngampung, dekil, lugu tapi Surti suka”

Teluk Persia, Perairan Qatar

May 15, 2012

Bedanya kerja di Offshore dan di Onshore (land) rig

Filed under: Well Testing — Tags: — Gugus Syuhada @ 5:04 am

Saya di sini tidak bermaksud menjelaskan detail seperti apa rig itu, dan bagaimana sistem kerjanya. Kecuali menjelaskan fungsinya sebagai sistem alat untuk melakukan pengeboran sumur minyak atau gas. Mungkin di lain topik saya akan menulisnya, pada saat saya sedang serius dan persiapannya matang jadi tidak menyesatkan. Di sini saya hanya mau menceritakan perbedaan pengalaman ketika bekerja di kedua jenis rig ini.

1. Offshore rig
Dari namanya, rig ini berada di lepas pantai. Jadi letak rig ini adalah di tengah laut. Karena di laut, ada dua cara menujunya yaitu menggunakan helikopter atau kapal. Kapal yang digunakan adalah fast boat yang memang hanya untuk mengangkut penumpang, berukuran kecil dan cepat, atau supply boat yang digunakan mengangkut peralatan, solar, air dan pasokan kebutuhan lainnya untuk rig. Supply boat membutuhkan waktu yang jauuuuh lebih lama menuju rig, bisa 4 hingga 5 kali dari waktu yang dibutuhkan oleh fast boat. Hal ini dikarenakan ukurannya yang lebih besar dan berat. Dari kedua jenis kapal tersebut saya memilih fast boat pada saat laut tenang dan supply boat pada saat laut agak bergelora karena dengan ukurannya yang besar dan berat, goyangan di kapal tidak terlalu terasa. Ya, tentu saja karena saya adalah makhluk darat dan terbiasa menapak tanah yang diam dan akan mabok jika digoyang-goyang berjam-jam di laut. Tips yang saya tahu untuk mengurangi mabok laut adalah usahakan perut terisi penuh dan cukup selama perjalanan, satu jam sebelum keberangkatan. Satu lagi, dalam kondisi mabok jangan minum yang manis karena hanya menambah pusing dan mual. Hal ini saya dapat dari seorang pelaut pada saat saya berusaha mengurangi mual dengan minum teh manis hangat. Sedangkan perjalanan dengan helikopter cukup menyenangkan untuk transportasi menuju rig karena sangat cepat dan keindahan yang ada di laut bisa saya lihat dari atas seperti naik cable car di Taman Mini, hanya saja di dalam helikopter kita tidak bisa bercakap-cakap karena suara dari baling-balingnya sangat bising.
Pada saat berada di rig offshore, kegiatan yang dilakukan sangat-sangat rutin. Karena memang tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan. Kira-kira begini gambarannya, selesai bekerja 12 jam, saya akan mandi, terus makan di mess hall atau galley. Selesai makan yang enak (biasanya lebih enak daripada rig darat) saya ke recreation room untuk melihat tivi bisa berita atau saluran musik, kalau berada di sekitaran timur tengah, cenderung india atau melodi arab. Jika nasib baik ada rig-rig yang menyediakan kursi pijat seperti osim yang banyak dijumpai di mall-mall. Setelah sekitar setengah sampai satu jam saya akan kembali ke kamar untuk baca buku atau nonton film sebelum tidur. Jika terdapat jaringan internet, saya akan buka-buka beberapa situs favorit seperti facebook, gmail dan skype atau yahoo messenger untuk bertukar kabar dengan keluarga atau istri. Setelah itu tidur hingga satu jam sebelum masuk shift kerja. Di rig offshore sangat umum dilengkapi dengan ruangan gym. Berhubung saya bukan pemilik kartu celebrity fitness atau yang sejenis jadi ruangan gym bukanlah tempat favorit saya.
Di atas saya sempat menulis kegiatan di rig offshore adalah rutin ya? Sebenarnya bisa saja menggunakan kata lain yaitu membosankan. Meski begitu, kelebihannya adalah rig offshore cenderung bersih, fasilitas cukup lengkap dan terawat, makanannya enak dan galey buka 24 jam sehingga kita bisa buat teh atau kopi, ambil kue atau buah jika merasa lapar di luar jam makan, dan peralatan penunjang pekerjaan tersedia lengkap dan siap sedia seperti misalnya crane atau tukang las.

2. Onshore/Land rig
Rig darat bisa dijangkau lebih mudah dibandingkan rig offshore. Lokasinya bisa di tengah hutan, di puncak gunung, tengah gurun, atau hanya di pinggir jalan sebuah kota atau desa. Jika lokasinya di area yang belum pernah dilalui orang, kendaraan yang digunakan biasanya mobil dengan penggerak 4 roda (4×4). Hal ini disebabkan akses yang dibuat sementara biasanya hanya berupa jalan tanah yang dikeraskan dan akan berubah menjadi jalan berlumpur di waktu hujan. Untuk itu mobil 4×4 sangat membantu untuk bisa melewatinya.
Aktivitas yang dilakukan cukup bervariasi, terlebih jika lokasi rig berada di dekat sebuah kota. Seringkali jika status pekerjaan sedang standby, kita bisa pergi jalan-jalan ke kota untuk sekedar berganti menu makanan yang itu-itu saja. Fasilitas yang ada tak selengkap rig offshore, seperti tidak adanya recreation room, fasilitas internet tidak tersedia, dan ruang gym isinya cuma barbel dan bangku panjang. Akomodasi kurang bersih, laundry kadang terlambat dan sering hilang terutama kaos kaki, makanannya membosankan dan kurang enak. Dari sisi pekerjaan, crane dan forklift operator susah dicari sehingga bisa menunda pekerjaan beberapa saat. Meskipun dari banyaknya kekurangan tersebut rig darat tetap memungkinkan saya bisa melihat pohon, menginjak tanah walaupun kadang becek dan berlumpur ketika hujan, bisa melihat orang lain selain pekerja rig, dan jika beruntung melihat gadis desa atau kota yang kebetulan lewat meskipun hal ini sangat jarang. Hal ini menyebabkan saya tidak terlalu bosan, karena bisa saja banyak hal baru terjadi setiap harinya.

Dari kedua jenis rig tersebut, manakah yang lebih saya suka sekarang ini? Tentu saja rig darat, karena kebosanan itu mematikan menurut saya.

 

Duhok, Iraq

May 7, 2012

Y U no scare go to Iraq?

Filed under: Well Testing — Tags: , , , — Gugus Syuhada @ 12:49 pm

Setidaknya ada tiga alasan kenapa saya tidak takut pergi ke Iraq :
1. Bukan orang Indonesia pertama

Ya, sebelum pergi pasti ada pikiran macam-macam tentang situasi keamanan di Iraq. Dengar kata Iraq, asosiasi kita selalu berkaitan dengan perang, bom dan Saddam Hussein. Hal-hal itulah yang membuat kita takut untuk pergi ke sana, tapi kenapa saya tidak? Karena ada senior saya yang mengajak, sudah pergi duluan ke sana. Dan menjawab, bahwa situasi di sana cukup aman ketika ditanya seperti apa keadaanya. Jadi saya berpikir jika senior saya saja berani dan meyakinkan kalau situasinya baik-baik saja kenapa saya harus takut.

2. Apa yang kita dengar di berita biasanya cakupannya terlalu luas.

Saya teringat sekitar tahun 2007 pada saat berada di Doha. Ketika ditanya saya berasal darimana dan saya jawab Indonesia maka orang tersebut akan melanjutkan dengan bertanya apakah tsunami melanda rumah saya.Tentu saja saya jawab tidak, karena saya tinggal di Madiun dan tsunami terjadi ribuan kilometer jauhnya di Aceh. Seperti itu jugalah jika membandingkan kenapa saya tidak takut ke Iraq. Saya pertama kali ke Iraq, menuju Erbil ibukota Kurdistan Region,semacam negara bagian khusus Iraq yang mempunyai pemerintahan sendiri. Nah di Erbil ini situasinya cukup aman. Tidak ada jam malam, orang asing bisa pergi keluar di malam hari, banyak transportasi umum terutama taksi dan ini sebuah kota tua yang berumur ribuan tahun. Sedangkan informasi tentang Iraq, biasanya kita dapat dari media, selalu berita tentang peperangan, bom bunuh diri, penembakan dan lainnya. Tapi kita jarang memperhatikan dimana tepatnya itu terjadi. Sampai sekarang pun, Baghdad dan beberapa kota di selatan Iraq masih cukup rawan (Erbil berada di utara Iraq). Jadi Iraq memang tidak aman TAPI tidak semua kotanya.

3. YOLO

Dulu waktu kuliah d Bandung sekitar tahun 2003 ada seorang kawan yang punya kebiasaan bercanda jika ditanya tentang lokasi suatu tempat, dia akan menjawab : “setelah perempatan Baghdad, belok kiri”. Karena pada tahun itu, ramai berita tentang Amerika yang melakukan penyerangan ke Iraq. Saya saat itu hanya tertawa-tawa saja karena apa urusannya saya dengan Baghdad, Iraq. Ternyata enam tahun kemudian saya punya kesempatan ke Iraq meski bukan ke Baghdad. Saya teringat becandaan kawan saya tersebut, tersenyum sendiri dan berkata dalam hati, “lucu juga kayanya kalau punya pengalaman pernah ke Iraq, jadi bisa tahu dimana itu perempatan Baghdad”. Ya, akhirnya saya ke Iraq tapi sayangnya belum pernah punya kesempatan ke Baghdad. Tapi setidaknya dalam hidup, saya pernah ke suatu negara yang terkenal karena perangnya dan saya bisa menulis di twitter : “Go to Iraq. #yolo.”

*YOLO : You Only Live Once.

Duhok, Iraq

Older Posts »

Theme: Silver is the New Black. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.